SiapaBilang : Barack Obama: Dunia Perlu Contoh Indonesia dalam Keberagaman dan Toleransi

Mantan Presiden AS, Barack Obama, berpidato di perhelatan the 4th Congress of the Indonesian Diaspora Network di Jakarta, Sabtu, 1 Juli 2017 (foto: AP Photo/Achmad Ibrahim)

Dalam pidatonya saat pembukaan kongres Diaspora Indonesia ke 4, mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan, Indonesia bisa menjadi contoh negara-negara lain mengenai toleransi.

Pidato mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, dalam pembukaan Kongres “Indonesian Diaspora Network Global (IDNG)” dihadiri ribuan orang yang berkumpul di Main Hall Kota Kasablanka, Jakarta, Sabtu (1/7).

Obama yang mengenakan setelan jas berwarna abu-abu dengan dalaman kemeja putih itu memberikan pidato yang berdurasi sekitar 30 menit di hadapan ribuan orang yang berkumpul di Main Hall Kota Kasablanka, Jakarta, Sabtu (1/7).

Dalam pidatonya Obama menceritakan pengalamannya berwisata ke Bali dan Yogyakarta, dan menyebut Indonesia selalu menjadi tempat yang istimewa bagi diri Obama. Obama dikenal memiliki kedekatan dengan Indonesia, karena sempat menghabiskan beberapa tahun masa kecilnya di Jakarta.

 

“Indonesia bagian dari diri saya. Dulu saya tinggal tak jauh dari sini. Saat itu gedung tinggi di Jakarta hanya Hotel Indonesia dan Sarinah,” ujar Obama.

Kunjungan Obama ke Indonesia kali ini membawa serta seluruh keluarganya: sang istri, dua putrinya yang beranjak dewasa, Sasha dan Malia, dan sang adik Maya Soetoro.

Dalam kunjungan beberapa waktu lalu di Bali dan Yogyakarta, Obama mengaku sangat menikmati kebudayaan Indonesia. Obama juga mengaku tersentuh dengan sambutan banyak orang selama di Indonesia. Terutama para pedagang yang menjajakan makanan.

“Kemanapun aku pergi, orang-orang menyambutku dengan mengatakan hey sate Obama. Bakso … nasi goreng, Pak,” imbuh Obama.

Obama menambahkan bahwa ia juga tertarik mencoba jajanan makanan dan minuman khas Indonesia seperti es cendol dan es kelapa muda.

Dalam pidatonya Obama mengatakan, Indonesia menjadi contoh negara-negara lain mengenai toleransi. Menurutnya, Indonesia terdiri dari banyak etnis, bahasa, agama, namun penduduknya tetap memiliki rasa saling menghormati satu sama lain. Menurut Obama, dilihat dari sejarah dan latar belakangnya, ada kesamaan antara Indonesia dan Amerika Serikat.

“Kedua negara memiliki keberagaman, menghargai hak asasi manusia (HAM), memiliki toleransi, dan pluralitas. Dan kita harus menghargai hal itu, menghargai perbedaan,”papar Obama.

Obama menuturkan, Indonesia memiliki semangat toleransi yang tinggi, yang bisa dilihat langsung dengan adanya masjid dan gereja yang dibangun secara berdampingan, seperti Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta Pusat. Selain itu, toleransi juga terlihat saat ia menyaksikan bagaimana Candi Borobudur dan Prambanan dilindungi oleh masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim.

“Borobudur adalah Candi Buddha terbesar, yang berada di wilayah yang mayoritas penduduknya adalah Muslim. Demikian juga dengan candi Hindu, Prambanan, yang berada di tengah penduduk yang beragama Islam. Itu adalah simbol bahwa Indonesia pada dasarnya menghargai keberagaman dan toleransi,” jelas Obama.

Toleransi, lanjut Obama, perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda mampu menghadapi tantangan masa depan tanpa memandang bagaimana bentuk fisik, agama, dan ras seseorang. Obama menjelaskan, telah mengenal toleransi sejak kecil, karena sebagai seorang nasrani, ia memiliki ayah tiri seorang Muslim dari Indonesia.

“Semua itu jadi simbol khas Indonesia, bahwa mereka Bhinneka Tunggal Ika, bersatu dalam keberagaman. Hal itu dapat dijadikan contoh untuk negara Muslim lain di dunia,” ujar Obama.

Ketua Board of Trustees Indonesian Diaspora Network Global, Dino Patti Djalal mengatakan lewat pidatonya, Obama tak cuma menyampaikan tanggapan, tapi juga memberikan masukan kepada diaspora di Indonesia. Obama memberikan inspirasi bagi masyarakat Indonesia mengenai pentingnya toleransi dalam bernegara.

“Tadi benar-benar memberikan pandangan beliau yang sejujurnya mengenai kondisi dunia. Mengenai masalah yaang dihadapi. Apakah itu kepemudaan, pengangguran, perubahan iklim, intoleransi, dan lain sebagainya. Saya kira ini membuat diaspora lebih semangat lagi,” ujar Dino Patti Djalal. [al/ab] [VOA]

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •