siapabilang.com
on April 14, 2022 60 views

Pada masa ini, pamor produk kebudayaan (populer) Korea kian naik. Dari musik, serial drama, reality show, film, semuanya menembus pasar dunia. Belakangan, prosa fiksi Korea pun mulai diperhatikan khalayak. Novel-novel Korea banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, dan diminati banyak pembaca. Lantas, bagaimana nasib dan kiprah puisi Korea?

Puisi Korea seakan tetap berada di wilayah “lain”. Pernyataan tersebut tidak sekadar bermakna ketersingkiran, tetapi juga berarti puisi memberi cara pandang berbeda tentang Korea, menjadi pintu masuk menuju sebuah dunia alternatif di balik ingar-bingar industri budaya populer Korea. Dalam konteks itulah kumpulan puisi Moon Changgil, “Apa yang Diharapkan Rel Kereta Api”, hadir. Moon Changgil menulis puisi tentang petani, buruh pabrik, korban kekerasan militer, dan rakyat kecil pada umumnya. Ia menunjukkan pada kita kita berbagai sisi Korea secara nyata, dengan luka-luka sosial, politik, dan sejarahnya.

Moon Changgil lahir di Gimje, Provinsi Jeolla Utara, Korea Selatan. Penyair angkatan ‘80-an di Korea ini mulai menulis puisi pada 1984. Selain menulis, ia memimpin sejumlah media dan aktif di organisasi sastra di Korea. Ia memimpin kelompok Changjak21 sekaligus mengelola majalah sastra Changjak21 dan memimpin penerbit Dlkot. Di samping itu, ia bergabung dalam Konferensi Pengarang Korea, Perhimpunan Penyair Korea, Persatuan Pengarang Bangsa Korea, Lembaga Riset Kesusastraan Bangsa, Perhimpunan Pengarang Goyang, dan Solidaritas Sosial Masyarakat Demokrasi Goyang.

Info dan pemesanan buku klik di sini.

-----

pra.ka.ta
n. keterangan (uraian dan sebagainya) yang ditulis oleh penulis atau pengarang sebagai pengantar suatu karya tulis (buku, laporan, penelitian, dan sebagainya); mukadimah

Be the first person to like this.