siapabilang.com
by on December 19, 2019
481 views

Layar bioskop tanah air 2020 dibuka oleh Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini (NKCTHI) besutan Angga Dwimas Sasongko. Film tersebut diangkat dari buku mega bestseller berjudul sama karya Marchella FP. Terbit pada akhir 2018, NKCTHI sampai saat ini sudah terjual 130 ribu eksemplar lebih. Pencapaian itu kemudian mengantar Checel—begitu Marchella FP biasa dipanggil—meraih penghargaan Writer of the Year dari IKAPI.

Kesuksesan bertubi-tubi yang dirasakan Checel dan NKCTHI tentunya menuai beragam opini. Banyak yang memuji dan mengagumi, meski tak sedikit pula yang memandang sebelah mata. Komentar miring seperti "overhyped" kerap terlontar dari para pengulas NKCTHI. Beberapa juga mempertanyakan tren buku berilustrasi dengan naskah minimalis yang NKCTHI ciptakan.

NKCTHI memang bukan buku pada umumnya yang sarat kalimat, hanya ada sekitar 5-20 kata per dua halamannya. Namun, apakah itu lantas membuat NKCTHI tidak punya legitimasi literasi? Siapa bilang menulis buku seperti NKCTHI lebih mudah daripada menulis novel ataupun puisi? Sesungguhnya, pengerjaan NKCTHI tidaklah sebatas pada apa yang tampak. Ada kerja-kerja kreatif lain yang mendahului, jauh sebelum kata-kata tertuang medium buku.

 

Sebuah Epitome

Percaya atau tidak, rentetan keberhasilan Checel dalam mengelola karya dimulai dari riset kecil-kecilan demi menyelesaikan tugas akhir. Ide Checel adalah membuat semacam proyek nostalgia untuk zaman 90an. Sadar bahwa proyeknya bisa berbuah lebih dari sekadar gelar sarjana, Checel pun mengembangkannya lebih jauh. Lewat akun Twitter @generasi90an, Checel berinteraksi dengan para follower yang oleh Checel disebut sebagai “relawan eksploitasi memori”.

Engagement yang tercipta membuat karya yang dihasilkan bisa sesuai dengan target pasar. Selain itu, upaya Checel tersebut juga berhasil mengajak crowd untuk merasakan kedekatan dengan karya yang dibuatnya. Hasilnya? Lahirlah Generasi 90an, buku berilustrasi yang mendokumentasikan kultur pop sepanjang dekade 90-an. Buku itu kemudian berkembang menjadi brand dengan berbagai kreasi turunan, mulai dari kaus, komunitas, sampai event.

Setelah sukses lewat Generasi 90an, Checel pun mengembangkan NKCTHI, kali ini lewat Instagram. Checel menggunakan fitur Instastory untuk mendekatkan diri ke follower akun @nkcthi. Tanpa bantuan admin, Checel rutin melempar satu topik, membuka ruang bagi warganet untuk me-reply dengan berbagi cerita ataupun curhat tentang topik tersebut. Ia kemudian membagikannya secara anonim, sebelum akhirnya membuat postingan simpulan di feed­-nya—satu kalimat pendek yang kelak akan menjadi isi bukunya. Sebagai contoh, “Di bumi banyak orang baik, tapi kita masih perlu lebih banyak lagi,” adalah kalimat penutup untuk sesi cerita “Baik Itu Menular”.

Kerja-kerja itu memang terdengar sederhana dan mudah. Tapi siapa, sih, yang masih bersedia repot-repot melakukan hal semacam itu, sendirian, di tengah kesibukan harian yang membuat penat? Nyatanya, belakangan ini, keberhasilan NKCTHI dijadikan panutan oleh sesama kreator. Sayangnya, yang ditiru hanya format bukunya—seakan kunci sukses NKCTHI adalah kalimat-kalimat pendek dengan diksi menohok—bukan usaha panjang yang Checel tempuh untuk menuju ke sana.

Penting untuk ditekankan bahwa NKCTHI merupakan pengalaman tersendiri bagi para penikmatnya. Mungkin kita bisa merasakannya, mungkin juga tidak. Satu yang pasti, kita harus mengamini bahwa ketekunan Checel sukses membangun antusiasme penggemar, sekaligus mengajak mereka tumbuh bersama dengan karya yang ditelurkannya. Pada akhirnya, membaca NKCTHI itu seperti membaca zaman, yang terus berubah dan isinya tidak itu-itu melulu. Jika buku hanyalah sebuah medium dan esensinya adalah gagasan yang ada di dalamnya, NKCTHI adalah epitomenya.


Ditulis oleh Anida Nurrahmi

Posted in: Esai
Like (7)
Loading...
7
Tulisan yang bagus dan mengena. Sering orang hanya melihat permukaan, tanpa melihat kedalaman dari sebuah proses. Apa karena segalanya sekarang begitu mudah hingga perlu berjarak untuk memahaminya?