Home Slider
Blogs

Blogs

View More
  • 0 Comments
    63 Views
    Apa yang Anda lakukan ketika mengetahui bahwa selama ini Anda hidup bersama “musuh”? Ada dua pilihan: panik namun berisiko kalah, atau berusaha tenang dan ikut permainan musuh untuk bertahan hidup. Love Letters for Mr. T mendokumentasikan perjalanan Sandila Ekaputri setelah memilih opsi kedua. Lewat buku debutnya, Sandila menceritakan pengalamannya hidup bersama “musuh” bernama Mr. T. “Musuh” yang bersarang dalam kepala Sandila itu merupakan tumor otak langka. Sejak menerima diagnosis pada 2019, emosi Sandila bergejolak bagai menaiki roller-coaster. Perjalanan tidak berhenti setelah melewati rangkaian operasi dan terapi penyembuhan. Setelah melalui pemulihan fisik, ia pun harus memasuki pemulihan mental. Semua emosi yang tertahan dalam dirinya kemudian dituangkan dalam surat-surat kepada Mr. T. Uniknya, surat-surat yang ditujukan kepada Mr. T ditulis Sandila dalam format e-mail. Format ini awalnya dipilih Sandila untuk kemudahan penulisan semata. Tetapi kemudian Sandila menjadikan e-mail sebagai alat untuk membuat jarak dengan Mr. T, karena menurutnya surat yang ditulis tangan rasanya terlalu personal dan cenderung untuk seseorang yang dikasihi. “Dengan e-mail, aku bisa lebih tegas dan lebih kelihatan ada batasan antara aku dan Mr. T,” tutur Sandila.  Dalam surat-suratnya yang ditulis secara kronologis sejak timbul gejala, Sandila mengisahkan pengalamannya menghadapi penyakit langka dan melewati masa penyembuhan. Selama itu pula Sandila mendapat berbagai pelajaran berharga yang sayang untuk tidak dibagikan secara luas. Dengan menerbitkan Love Letters for Mr. T, Sandila mendedikasikan buku ini kepada sesama pasien tumor otak. Ia ingin menyampaikan kepada para pasien, bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi penyakit langka. Pengalaman dan pelajaran yang dibagikan Sandila dalam buku ini diharapkan bisa mejadi penguat dan pemberi harapan kepada para pasien.  Selain cocok dibaca oleh penderita tumor otak, buku ini juga pas untuk dibaca oleh dokter, suster, maupun keluarga/sahabat yang sedang merawat pasien. Menurut Sandila, peran para perawat pasien amat besar dan alangkah baiknya bila semakin banyak orang yang mau turut ambil bagian dalam upaya kesembuhan penderita penyakit berat. Meski pengalaman yang dibagikan tentang penyakit, buku ini juga cocok dibaca oleh umum. “Orang-orang yang sedang kesulitan dan butuh harapan, aku harap mereka bisa terhibur dan mendapat sedikit pelajaran tentang mengadapi 5 stages of grief (tahap kesedihan),” ujar Sandila. Terakhir, tentunya buku ini dibuat untuk tumor otak yang masih menyisa dalam dirinya. Karena dengan mencurahkan perasaan dan rencananya kepada Mr. T, Sandila bisa melanjutkan  hidup dalam kedamaian. Love Letters for Mr. T diterbitkan oleh Penerbit POP, imprint KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Buku ini rilis di toko buku offline dan juga online pada hari Rabu, 17 Agustus 2022 dan resmi melaksanakan peluncuran buku pada hari Sabtu, 27 Agustus 2022 di Bartisserie, ASHTA @ District 8, Jakarta.     TENTANG PENULIS Sandila Ekaputri lahir di Jakarta, Indonesia. Tumbuh sebagai seorang yang penuh rasa ingin tahu, Sandila seringkali menganggap benda mati bisa berbicara (karena karakter Noddy dalam buku Enid Blyton). Hal ini memicunya menulis cerita semasa kuliah tentang kisah patah hati sebuah rokok yang bisa bicara. Kemudian, ketika Sandila didiagnosis mengidap tumor otak pada 2019, dia memutuskan untuk menghidupkan tumor tersebut sebagai karakter yang keras (namun agak pengecut).   TENTANG PENERBIT POP Penerbit POP adalah imprint KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) yang menerbitkan buku untuk dewasa-muda, baik fiksi maupun non-fiksi. POP pertama kali muncul sebagai lini penerbitan pada 2013 dan hingga kini konsisten menerbitkan buku-buku populer yang memiliki concern terhadap isu-isu terkini, dikemas dengan eksperimen pada layout dan tampilan fisik buku.
  • 0 Comments
    490 Views
    TAUTAN NOBAR KE ZOOM TIDAK TERSEDIA PADA LAMAN INI. SILAKAN CEK INBOX/SPAM/PROMOTION PADA EMAIL ANDA UNTUK MENDAPATKAN TAUTAN ZOOM Nobar Batch #6 dan Peluncuran Novel "Laut Bercerita" Edisi Hardcover. JIKA BELUM MENDAPATKAN TAUTAN NOBAR SETELAH MENDAFTAR DI LOKET.COM, SILAKAN DM KE INSTAGRAM @PENERBITKPG ATAU KIRIM EMAIL KE KPG.BOOKMANIA@GMAIL.COM. * Film pendek Laut Bercerita diadaptasi dari novel Laut Bercerita (KPG, 2017) karya Leila S.Chudori, atas ide Yayasan Dian Sastrowardoyo dan Cineria Films. Film pendek garapan sutradara Pritagita Arianegara, didukung produser Gita Fara dan Wisnu Darmawan ini meluncur bersama novelnya pada 12 Desember 2017 di IFI Jakarta. Pemutaran disaksikan para aktivis 1998, orangtua korban, kawan-kawan dari IKOHI dan KontraS, serta komunitas sastra dan film. Mereka yang terlibat di dalam film ini melakukannya dengan sukarela dan kepercayaan bahwa perlu banyak pengorbanan untuk mencapai gerakan Reformasi, yang berbuah mundurnya Soeharto Mei 1998 lalu. Dalam rangka memperingati Hari Anti-Penghilangan Paksa Internasional yang jatuh setiap tanggal 30 Agustus, Leila S. Chudori, KPG, dan segenap tim produksi film pendek The Sea Speaks His Name menggelar Nobar Batch #6 dan Peluncuran Novel "Laut Bercerita" Edisi Hardcover. Diskusi menghadirkan Pritagita Arianegara (Sutradara), Wisnu Darmawan dan Gita Fara (Produser), Ayushita Nugraha (Aktris, pemeran Asmara Jati), Lilik HS (Aktivis '98), dan Leila S. Chudori (Penulis Laut Bercerita). Novel Laut Bercerita pertama kali terbit pada 2017 dan pada saat ini sudah sampai cetakan ke-48. Versi hardcover diterbitkan bertepatan dengan HUT ke-77 Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2022, atau lima tahun setelah terbitnya softcover. Dapatkan bukunya di toko buku terdekat.  PERHATIAN!!!! Laut Bercerita adalah film pendek berdurasi 30 menit yang diproduksi oleh Yayasan Dian Sastrowardoyo bekerja sama dengan Cineria Films. Film ini disutradarai oleh Pritagita Arianegara, dan merupakan adaptasi dari novel Leila S. Chudori dengan judul yang sama, yang juga menulis skenario film ini.  Film ini telah dinilai oleh LSF untuk penonton berusia 17 tahun ke atas.  Film ini masih diputar untuk penonton terbatas, maka untuk menghindari masalah hak cipta dan pembajakan, Anda dilarang merekam video atau mengambil foto dari film saat pemutaran berlangsung.  Agar Anda bisa menikmati dengan baik film ini, sediakan sambungan internet yang memadai, dan gunakan laptop atau desktop alih-alih handphone.  Jika ada pertanyaan atau permintaan untuk memutar film kami, silakan ikuti kami di IG @LautBercerita.  Dimohon peserta hadir 15 menit (pkl. 18.45 WIB) sebelum acara melalui tautan (Join Meeting) yang telah kami kirimkan ke email yang teman-teman gunakan untuk mendaftar di loket.com. Jika di inbox/kolom utama email Anda tidak menemukan tautan Zoom dari kami, silakan cek di kolom spam/promotion di email Anda, email dari zoom. Mohon tidak membagikan tautan (Join Meeting) Anda ke orang lain. Jika Anda melakukannya, kami hanya akan memilih satu nama yang dimasukkan ke ruangan.  Mohon masuk menggunakan nama yang Anda gunakan saat mendaftar. Bila Anda masuk dengan nama yang tidak terdaftar akan berisiko dikeluarkan oleh Admin. Pertanyaan bisa disampaikan melalui kolom Q&A, bukan kolom Chat.  Mohon untuk tidak merekam film dalam bentuk apapun.
  • 0 Comments
    67 Views
    A Teen’s Guide to Self-Discovery adalah buku keenam dari idola remaja masa kini yaitu Adyla Rafa Naura Ayu atau yang lebih dikenal dengan nama Naura Ayu. Selain merilis lagu yang bertemakan remaja, buku ini dibuat oleh Naura sebagai salah satu rangkaian karya dari Naura yang membahas perihal masalah yang kerap dialami oleh kaum remaja termasuk Naura sendiri, seperti perubahan-perubahan dalam hal minat, pola berpikir, cara belajar, hubungan dengan orang tua, masalah pertemanan hingga masalah percintaan. Selain itu, Naura juga mengajak para penggemarnya yaitu “Teman Naura” untuk mengajukan pertanyaan untuk Naura maupun curhat bareng/bercerita tentang masalah yang sedang mereka hadapi. Tidak disangka, ribuan direct message (DM) masuk ke akun Instagram @naura.ayu, yang dimana mereka banyak membahas mengenai kepercayaan diri, self-image, bullying, hingga soal kesedihan, ketakutan, dan kegagalan.  Dengan banyaknya cerita maupun pertanyaan dari Teman Naura tersebut di atas, Naura bersama team management PT. Trinity Artist Management dan redaksi Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) melakukan seleksi dan merangkum menjadi beberapa topik pembahasan hingga menjadi 12 bab, yang terdiri dari: Bab 1: Overthinking | Bab 2: Insecurities | Bab 3: Bullied | Bab 4: Helplessness | Bab 5: Self-Harm | Bab 6: Self-Management | Bab 7: Aspiration | Bab 8: Failure |  Bab 9: Self-Acceptance | Bab 10: Family | Bab 11: Friendship |  Bab 12: Virtual Life Di setiap bab di atas, Naura menulis jawaban dari berbagai pertanyaan Teman Naura berdasarkan pengalaman saat Naura menghadapi hal–hal yang ditanyakan, seperti: bagaimana cara Naura menghadapi haters di dunia maya, bagaimana saat rencananya tidak berhasil, serta bagaimana saat ia harus menghadapi banyak orang. Di luar dugaan, ada juga pertanyaan-pertanyaan sensitif, seperti self-harm yang dijawab Naura dengan sangat bijak.  Penyanyi yang belum lama ini merilis single ketiga yang berjudul “Menikmati Sedih” ini berharap, Teman Naura yang sedang mengalami kesulitan akan termotivasi dengan kehadiran bukunya dan dirinya dapat menjadi salah satu support system mereka. Seperti yang Naura sendiri rasakan, selain keluarga dan sahabat, Teman Naura menjadi salah satu support system-nya saat menghadapi kesulitan dimasa remaja sekarang ini. Buku ini juga dilengkapi dengan ulasan dari psikolog remaja yaitu Saskhya Aulia Prima yang juga memberikan masukan aktivitas-aktivitas dan tips untuk menghadapi situasi-situasi yang ditanyakan oleh Teman Naura, misalnya membuat jar of gratitude dan tips menghadapi overthinking. “Pertanyaan-pertanyaan Teman Naura menunjukkan bahwa memang pada usia remaja ada begitu banyak perkembangan dan rintangan yang dihadapi, mulai dari insecurities sampai keresahan tentang mimpi dan cita-cita. Karena itu, selain support orang tua, remaja perlu punya role model positif yang inspiratif serta mendapat informasi yang tidak menyesatkan, seperti informasi dari para ahli, supaya keresahan-keresahan yang dialami bisa diubah menjadi sesuatu yang produktif dan mengembangkan diri mereka” ungkap Saskhya.  Lebih jauh, Saskhya juga berharap lewat buku ini, teman-teman remaja pembaca buku bisa merasa ditemani dan didampingi dalam perjalanan mereka menghargai dan menyayangi diri sendiri. Buku A Teen’s Guide to Self-Discovery ini diterbitkan oleh Penerbit KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), dan launching pada hari Rabu tanggal 27 Juli 2022. Dengan diselenggarakannya launching dan press conference yang dihadiri oleh media partner dari KPG dan Trinity, buku ini juga telah tersedia di semua toko buku offline dan juga e-commerce.  “Aku harap buku terbaru aku ini bisa menginspirasi serta memotivasi Teman Naura dalam menemukan diri mereka dan menikmati hidup sebagai teenagers. Tentunya, secara positif, wise, dan kreatif” ujar Naura Ayu. Penyanyi dan aktris yang berada di bawah naungan record label PT. Trinity Optima Production ini, juga telah merilis 5 buku sebelumnya, antara lain: Aku Naura (mega best-seller) (2017) Naura & Genk Juara The Movie (best seller) (2017) Naura & Genk Juara: The Adventure Begins (2017) Aku Naura: The Official Scrapbook (2018) Konser Dongeng Naura (2019)
  • 0 Comments
    69 Views
    JAKARTA, 21 Juli 2022 – “Seribu Kisah; Sebuah Kasih” merupakan buku kumpulan cerita hasil kurasi ‘Menjadi Manusia’, berisi ragam kisah tentang ikatan cinta antar manusia. Buku ini, memiliki 150 kisah kasih dan masing-masing kisah tidak lebih dari 150 kata. Proyek yang dimulai sejak Agustus 2021 ini, mengumpulkan kisah kasih dari para ‘Teman Manusia’—sebutan bagi komunitas ‘Menjadi Manusia’. Tim ‘Menjadi Manusia’ percaya bahwa setiap orang punya kisah cinta yang unik, sehingga akan menarik untuk mengumpulkan berbagai cerita, baik yang sedih, lucu, unik, patah hati, ataupun bahagia. Hasilnya, ratusan kisah terkumpul. Kemudian, proses kurasi dilaksanakan dan dipimpin oleh Adam A. Abednego, co-founder ‘Menjadi Manusia’. Setelah memilih 150 kisah, tulisan-tulisan tersebut disunting agar memiliki mood tulisan yang sama untuk dimasukkan ke dalam buku, dan tentunya tetap menjaga agar  tidak lebih dari 150 kata. Alasan pembatasan jumlah kata ini adalah karena rentang perhatian manusia terhadap bacaan semakin sedikit. Maka ‘Menjadi Manusia’ mencoba untuk mengemas cerita yang singkat, namun tetap hangat, sehingga bisa dinikmati oleh banyak orang. “… Lumayan dilema karena ada lebih dari 600 cerita yang masuk, dan masing-masing cerita punya makna tersendiri bagi penulisnya …”, sebut Adam ketika menjelaskan proses kurasinya. “Butuh sekitar 6 bulan buat memilih 150 cerita yang masuk ke dalam buku.”, ujar Adam. Dalam 150 kisah ini, terdapat empat kisah yang ditulis oleh guest writer yang seringkali berkolaborasi dengan ‘Menjadi Manusia’ dalam pembuatan konten. Keempat guest writer tersebut adalah; musisi Rayhan Noor, Tristan Juliano S., dan Feby Putri, serta content creator Ian Hugen. “… Ini pengalaman pertama aku menulis untuk buku, aku biasanya nulis lirik. Temanya juga cinta, sementara untuk lagu pun aku nggak pernah bikin yang tentang cinta. Ternyata susah juga, ya. Tapi berkat menulis untuk buku ini, aku jadi latihan juga untuk bikin lagu cinta …”, ungkap Feby Putri tentang pengalamannya menjadi salah satu guest writer pada buku Seribu Kisah; Sebuah Kasih. “Seribu Kisah; Sebuah Kasih” diterbitkan oleh Penerbit POP, imprint KPG (Kepustakaan Populer Gramedia). Buku ini telah rilis di semua toko buku offline dan juga e-commerce pada Rabu, 13 Juli 2022, dan resmi melaksanakan book launch pada Sabtu, 23 Juli 2022 yang dihadiri oleh para Teman Manusia yang ikut berbagi cerita. “… Semoga dengan berbagai macam kisah cinta yang ada di buku Seribu Kisah; Sebuah Kasih ini dapat membuat para membaca memahami ragam cerita cinta manusia dan juga mewakili perasaan mereka yang memiliki cerita serupa …”, tutur Adam.
News
NEWS