Home Slider
News
NEWS
Blogs

Blogs

View More
  • 0 Comments
    211 Views
    0 Comments
    211 Views
    Tidak semua disertasi bisa segera terbit setelah sang penulis memperoleh kelulusan doktoralnya. Segenap peminat dan sidang pembaca harus sabar menanti, bahkan terbilang masa puluhan tahun lamanya, hingga akhirnya "anak-anak rohani" itu siap untuk dikonsumsi umum. Hal itu dialami oleh sejarawan Ong Hok Ham (1933-2007) dan Peter Carey (lahir 1948). Dua nama besar yang sama-sama mengkhususkan disertasi pamungkasnya pada studi sejarah Jawa. Disertasi mereka memiliki nasib yang berliku sebelum kemudian berhasil dibukukan. Kata "berhasil" tepat untuk disematkan mengingat proses pembukuan disertasi masing-masing tidaklah mudah.   Gambar 1. Kiri: Ong Hok Ham menggendong Tuyul, salah satu anjing peliharaannya. Dua anjing lain Ong bernama Kribo dan Blacky. Sejarawan David Reeve, kolega Ong, secara gurau menjuluki mereka sebagai anjing Melayu. Kanan: Peter Carey berkampanye bagi kemerdekaan Timor Timur di London, Inggris, pada pertengahan 1990-an dalam aksi mendukung referendum di Timor-Leste dan pembekuan ekspor alutsista militer Inggris untuk Indonesia, terutama pesawat tempur Hawk (Foto Koleksi Peter Carey) Kedua sejarawan ini memiliki beberapa pertautan lainnya. Keduanya lahir di Asia Tenggara (Ong di Surabaya, Indonesia; Peter di Yangon, Myanmar), bahkan tanggal kelahirannya hanya berselisih satu hari⁠—Carey pada 30 April sedangkan Ong pada 1 Mei. Mereka sesama produk doktoral pada tahun 1975 yang belum pusing memikirkan jurnal SCOPUS; dan dikenal kondang akan kajian Jawa abad XIX.  Tidak berhenti sampai di situ. Semasa hidup, Ong merupakan dosen legendaris yang unik nan nyentrik di jurusan sejarah Universitas Indonesia (UI). Siapa sangka, Peter Carey yang sohor dari University of Oxford setelah pensiun dini (2008) kemudian menetap ke Indonesia dan sejak tahun 2013 menjadi Adjunct Professor (Profesor Tamu) Fakultas Ilmu Budaya UI, tempat Ong dulu mengajar. Tercatat pula keduanya saling mengantar buku masing-masing. Ong Hok Ham memberi kata pengantar pada karya Peter Carey berjudul Asal Usul Perang Jawa: Pemberontakan Sepoy dan Lukisan Raden Saleh (1986). Peter Carey sendiri baru bisa menyamakan kedudukan pada tahun 2018 dengan memberi kata pengantar pada edisi bahasa Indonesia pembukuan disertasi Ong Hok Ham, Madiun dalam Kemelut Sejarah: Priayi dan Petani di Keresidenan Madiun Abad XIX (2018).   Hubungan saling memberi dan saling menerima seperti di atas merupakan keniscayaan dalam ruang intelektual yang sehat bugar. Teristimewa karya disertasi keduanya diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit yang sama, yakni Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta—sebuah penerbit yang dilahirkan tepat menjelang Orde Baru lengser keprabon dan karenanya mengandung spirit demokratisasi ilmu pengetahuan dalam alam Reformasi.  Jalan Berliku Peter Carey merampungkan disertasinya di Oxford pada 1975 dengan judul Pangéran Dipanagara and the Making of the Java War, 1825-30. Ia dibimbing Richard Cobb (1917-1996), ahli Revolusi Prancis, dengan penguji Ronald Robinson (1920-1999) yang sohor sebagai ahli sejarah imperial dan persemakmuran serta Merle Calvin Ricklefs, pakar Hamengku Buwono I (1717-1792, bertakhta 1749-1792). Seperti rentang masa Orde Baru, ternyata butuh 32 tahun hingga disertasi itu terbit berbahasa Inggris di Belanda oleh penerbit yang kini sudah almarhum, KITLV Press, Leiden. The Power of Prophecy, Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785-1855, yang dicetak pada 2007, dalam hitungan bulan dicetak kembali. Karya setebal hampir seribu halaman yang raksasa dari sudut penulisan biografi ini mendapat sambutan hangat publik internasional. Total ada 37 tahun tersendiri bagi publik tanah air baru bisa menikmati karya monumental Peter Carey. Hal itu terhitung sejak berupa naskah disertasi hingga terbit edisi bahasa Indonesia dalam tiga jilid Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785-1855. Sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa karya magnum opus itu butuh waktu hampir empat dekade baru berbahasa Indonesia. Pertama, tantangan saran akademis dari M.A.P. Meilink-Roelofsz (1905-1988), arsiparis dan ahli sejarah ekspansi Eropa Barat, kepada Peter Carey agar mengembangkan disertasinya secara lebih komprehensif. Tentu saja mengembangkan disertasi membutuhkan riset lanjutan.  Kedua, Peter Carey mengalami krisis moral sebagai Indonesianis tatkala mendapati Indonesia menginvasi Timor Portugal dan menjadikannya salah satu provinsi di Indonesia, yakni Timor Timur (1975-1999). Ia melihat Xanana Gusmão laksana Pangeran Diponegoro yang dikejar-kejar kolonial Belanda. Krisis moral hingga kegoncangan jiwa juga dialami Ong Hok Ham. Kengerian atas pembunuhan massal buntut G30S 1965 yang disaksikannya sendiri di Jawa Timur menjadi salah satu latar belakang kepergiannya ke Amerika Serikat untuk mengambil gelar doktoral di Yale University—sebuah daya upaya untuk pemulihan trauma pasca peristiwa mengerikan itu.  Meruwat dan Merawat Secara anumerta, pada usia 85 tahun (2018), Ong Hok Ham mendapat kado penerbitan disertasinya. Teristimewa dua karibnya mengantar buku itu. Selain Peter Carey, ahli ilmu politik yang tengah menulis biografi Ong Hok Ham, David Reeve, turut menulis epilog buku itu dengan menitik-beratkan Ong dan Jawa Timur, tanah leluhur yang dicintainya. Pada 21 November 2018 buku Ong itu diluncurkan di Hotel Sun, Kota Madiun. Secara khusus Peter Carey dan David Reeve hadir di sana untuk merayakannya di depan publik yang berdatangan dari eks Keresidenan Madiun, antara lain Ponorogo, Ngawi.  Acara itu menjadi reuni kecil alumni sejarah UI lantaran beberapa murid Ong juga muncul, seperti Iskandar P. Nugraha yang menjadi moderator hingga Judi Kasturi (yang berpulang 27 Maret 2020 silam) dan Wasmi Alhaziri. Peter menandaskan arti penting disertasi sejawatnya itu. “Karya Ong ini sangat penting bagi historiografi Madiun. Guna membebaskan warga Madiun dari PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder, Derita Stres Pasca Trauma) dari stigma September 1948 (PKI/Musso).”, tulis Peter Carey dalam prolog buku Ong yang diulanginya di depan forum.  Sebagaimana Ong memulihkan diri dengan studi doktoralnya, diharapkan disertasi itu juga meruwat sekaligus merawat memori politik masyarakat Madiun guna menggali kekayaan sejarah budaya negeri mereka yang begitu berlimpah ruah. Historiografi Madiun sangat kaya karena wilayah tersebut merupakan ibu kota alternatif wilayah sebelah timur Keraton Yogyakarta. Kekayaan itu perlu digali dan disebarluaskan sebagai selebrasi keragaman sejarah Indonesia dalam kancah global. Setelah Kuasa Ramalan karya Peter Carey terbit, muncul sebuah gelombang gerakan budaya masyarakat berbasis historiografi. Keturunan Diponegoro dapat berkumpul kembali hingga mewadah dalam sebuah perkumpulan trah. Timbul-deras karya-karya seni rupa, pertunjukkan, hingga film mengenai Diponegoro dan Perang Jawa. Tidak mengherankan bahwa Kuasa Ramalan telah mengalami cetakan ulang keempat hingga tahun 2019. Etos kerja dan dedikasi Peter Carey selama hampir setengah abad terakhir terekam dalam buku Urip iku Urub: Untaian Persembahan 70 Tahun Profesor Peter Carey (2019) yang dapat menjadi cetak biru bagi generasi sejarawan mendatang.  Sampai di sini, menulis disertasi dan menerbitkannya dalam edisi ilmiah populer merupakan perjalanan lahir-batin yang berbeda sepenuhnya masing-masing. Sesudah terbit, buku disertasi itu memiliki takdirnya sendiri dalam peradaban masyarakat pembacanya.   Ditulis oleh FX Domini BB Hera.
  • 0 Comments
    712 Views
    Setelah pengumuman pandemi korona dari WHO pada 11 Maret 2020, pada 12 Maret pemerintah Finlandia meminta warga untuk tidak melakukan kegiatan berkumpul dengan 500 orang lebih. Warga juga diminta untuk tidak bepergian atau berkunjung ke kelompok yang masuk kategori berisiko tinggi (seperti orang berusia lanjut dan orang yang memiliki riwayat penyakit pernapasan), sementara warga yang baru pulang dari luar negeri diminta untuk melakukan karantina minimal selama empat belas hari. Setelah pengumuman pemerintah pada 12 Maret tersebut, warga berbondong-bondong berbelanja bahan makanan (diikuti dengan cerita tisu toilet dan pasta yang habis di mana-mana) sehingga menimbulkan antrian pembayaran panjang, walau masih terkendali. Pada akhir pekan itu, beberapa lembaga pendidikan seperti universitas dan sekolah tinggi sudah mulai menyiapkan lembaganya untuk ditutup, dan bekerja atau melakukan proses belajar mengajar jarak jauh.  Suasana pusat kota amat sepi. Walaupun pusat perbelanjaan dan restoran masih buka, kebanyakan sepi pengunjung. Dengan bertambahnya jumlah pasien yang positif terkena virus korona—total 272 kasus pada Senin sore, 16 Maret 2020 (bertambah 30 kasus baru dari data Minggu, 15 Maret 2020), pemerintah Finlandia, dengan juru bicara Perdana Menteri Sanna Marin, mengumumkan negara dalam keadaan darurat (state of emergency)1. Untuk mengurangi penyebaran virus berbahaya ini, pemerintah menutup sekolah dasar dan pusat-pusat perkumpulan dan budaya (seperti teater, GOR, tempat hiburan, dll.) sampai 13 April 2020. Warga diminta berada di rumah, bekerja dari rumah, dan mengurangi kegiatan sosial. Kontak fisik diminta dikurangi dan satu sama lain menjaga jarak, juga menjaga kebersihan. Dengan perkembangan situasi krisis yang berubah begitu cepat, bagaimana pendidikan dapat berlangsung efektif?   Kesiapan Teknologi di Dunia Pendidikan Seperti yang saya tulis dalam bab pertama buku Sistem Pendidikan Finlandia (2019), sistem belajar mengajar di Finlandia sudah sangat mapan. Sejak diberlakukan kebijakan untuk mengurangi penggunaan kertas (paperless) pada sekitar tahun 2010-an, lembaga pendidikan sudah menggunakan metode pengajaran dengan teknologi elektronik.  Untuk sekolah dasar (kelas 1-9) dan sekolah menengah (setara SMA kelas 1-3), lembaga pendidikan menggunakan aplikasi Peda.net (tinggal memasukkan nama sekolah) dan Wilma (hlm. 30). Para guru, orangtua/wali, dan siswa sendiri (mulai kelas 7) terhubung dengan aplikasi ini, yang dapat diakses oleh komputer atau ponsel pintar (smartphone). Oleh karena itu, semua pihak memiliki akun surat elektronik (email account), yang biasanya berformat resmi: nama depan(titik)nama belakang(@)nama lembaga sekolah/kantor atau akun umum lainnya.  Dengan begitu, semua pihak yang terhubung dengan Wilma akan mengetahui pengumuman di sekolah, jadwal pelajaran siswa, absensi siswa (dan meminta izin), kegiatan sekolah atau kelas dan jadwal rapat orangtua, bahkan waktu liburan. Berita mengenai krisis virus korona juga selalu diperbaharui di Wilma.  Di peda.net, guru-guru menuliskan tugas siswa per hari dan foto hasil pekerjaan siswa dikumpulkan ke dalam folder siswa (yang username kelas dan password-nya sudah diberitahukan di dalam pesan Wilma)2. Video pelajaran juga diberikan dalam situs web tersebut.  Tugas-tugas ini dikumpulkan sampai hari Jumat dan diarsip oleh guru, sehingga minggu depan folder tersebut sudah kosong kembali untuk diisii dengan tugas baru minggu berikutnya. Walaupun tenggat waktu pengumpulan dinyatakan sampai hari Jumat, kami mengumpulkan tugas tersebut setiap hari. Kami mencoba untuk tetap disiplin mengikuti jadwal sekolah, yang berjalan sekitar 4 jam sehari untuk anak kelas 1 SD, berlaku untuk anak kedua saya, Reza.    Reza sedang mengerjakan tugas harian dari sekolah. Setiap pagi kami memeriksa tugas yang diberikan oleh guru kelas untuk hari itu melalui peda.net. Misalnya, klik tautan ini. Pelajaran dilakukan sekitar empat jam; olahraga dan musik (karena bergerak dan mendengarkan lagu/menari) kami lakukan di sore hari. Hasil pelajaran kami foto dan kami masukkan ke folder sekolah anak di peda.net setiap hari.   Siswa SMA—salah satunya adalah anak sulung saya, Nadya—juga masih menggunakan Wilma3. Mereka lebih mandiri dengan mengikuti kelas online dari guru-gurunya, dan biasanya menggunakan program Microsoft Teams. Semua ini diakses dari komputer siswa sendiri, bahkan mengikuti jadwal pelajaran sekolah seperti biasa! Untuk tingkat pendidikan tinggi, seperti universitas dan politeknik, lembaga yang bersangkutan lebih independen lagi. Selain laman elektronik (website) universitas, setiap sivitas akademik, dari mahasiswa, staf akademik, maupun pengajar, memiliki akun tersendiri (yang berbeda dari universitas lain) dan akan mudah mengakses beragam lingkungan/lahan pengajaran (learning environment). Di Universitas Jyväskylä, kami menggunakan aplikasi Korppi/Sisu (hlm. 180) untuk tempat berinteraksi dalam pembelajaran seperti layaknya Wilma di sekolah dasar dan menengah.  Dalam aplikasi tersebut, mahasiswa mengetahui program studinya, berapa kredit yang harus dicapai, dan jadwal-jadwal kuliah yang disediakan di seluruh universitas (yang dapat juga diikuti mahasiswa walaupun mata kuliah itu di luar bidang studinya). Untuk pengajar, di dalamnya tersedia info umum universitas dan mata kuliah yang diampunya, yang di dalamnya berisi jumlah siswa, jadwal serta ruang kuliah, dan hal-hal teknis mengajar lain, seperti pengumuman kepada siswa, dll.  Dalam aplikasi lain, Koppa, misalnya, para pengajar dapat menaruh artikel atau bahan-bahan kuliah yang tidak tersedia di perpustakaan yang dapat digunakan sebagai materi perkuliahan atau presentasi yang dapat diakses mahasiswa. Aplikasi pembelajaran lain adalah Moodle (dulu juga ada Optima), yang merupakan suatu learning environment, suatu lahan pengajaran di mana pengajar dapat melangsungkan suatu kuliah tanpa bertemu dengan siswa secara langsung atau melalui video. Pengajar dapat berinteraksi dengan siswa, dengan memberikan bahan kuliah, membagi tugas kelompok, membuka ruang diskusi baik dengan chat di waktu tertentu, maupun dengan tulisan/komentar di suatu forum. Pengajar juga dapat menaruh video kuliahnya, sehingga dapat diakses mahasiswa kapan saja mereka ada waktu (dan pengajar dapat memonitor kegiatan mahasiswa apakah mengakses video atau artikel yang dibagikan). Aplikasi Moodle ini sangat efektif digunakan apabila kuliah memang dilaksanakan secara virtual dan tidak terikat ruang kelas. Belum lagi universitas juga memberikan fasilitas kepada pengajar untuk bisa merekam kuliahnya (dengan editor) sehingga video kuliah dapat disunting dan dimuat di website departemen untuk mata kuliah tertentu.    Belajar Jarak Jauh pada Saat Krisis Virus Korona Dengan kesiapan teknologi yang baik, lembaga pendidikan Finlandia mampu menghadapi perubahan situasi dengan cepat. Saat diumumkan bahwa akan dilakukan penutupan tempat-tempat umum, lembaga pendidikan sudah siap dengan sistem belajar mengajar jarak jauh. Semua informasi diumumkan melalui media Wilma dan email resmi sekolah. Diumumkan pula bahwa seluruh kegiatan hobi, seperti les musik, berenang, skating, sepakbola, dll, ditutup. Terkadang pengumuman memang beredar lewat aplikasi media sosial dan grup WhatsApp, tapi pengumuman resmi melalui website dan email resmi tetap dilakukan.    Reza, anak kedua saya, sedang berlatih drum dalam kelas online bersama gurunya melalui aplikasi Zoom. “Kelas” ini tetap dijalankan setiap Jumat sore pukul 16.00 selama setengah jam—kali itu Reza belajar ketukan dan menulis not balok, di mana hasilnya ditunjukkan kepada gurunya lewat video. Guru juga memberikan PR latihan ketukan drum lewat video Youtube.   Pihak universitas di mana saya bekerja juga sudah melakukan persiapan penutupan lebih awal, sehingga pimpinan departemen dan ketua-ketua jurusan tahu apa yang harus dilakukan. Mailing list departemen kami dipenuhi oleh arahan, pengumuman, dan pemberitahuan atas fasilitas apa yang diberikan agar proses belajar mengajar tetap berlangsung efektif walau tidak ada kelas seperti dalam keadaan normal. Dukungan dan fasilitas pengajaran juga langsung diberikan, misalnya meminjamkan laptop kantor untuk dibawa pulang oleh staf pengajar. Ketua unit juga mulai mencoba melakukan rapat virtual lewat Teams—untuk mengetahui bagaimana menjalankan rapat secara online. Kami juga berbagi cerita dan rencana perkuliahan, baik menggunakan program Zoom (dan program pengajaran lain) yang disediakan universitas maupun kontak email atau lainnya. Informasi aplikasi umum seperti Skype atau Google Hangouts juga diberitahukan, namun karena aplikasi ini bersifat terbuka, metode pengajaran lewat media ini tidak disarankan—sebaiknya kami menggunakan media resmi melalui akun universitas secara formal. Tugas-tugas (biasanya berkas tulisan) dapat dikirimkan ke media Moodle atau Koppa, atau bahkan dikirim ke email pengajar langsung. Kalau tugas paper dikirimkan lewat Moodle, malah tersedia aplikasi Turnitin anti-plagiarism, yang memeriksa apakah tugas siswa sudah memenuhi standar untuk tidak mencontek karya orang lain lebih dari 20 persen.  Kesiapan teknologi memang diperlukan apabila metode jarak jauh diperlukan, namun harus dipahami bahwa setiap orang tidak memiliki fasilitas yang sama. Walaupun berada dalam sivitas akademik yang sama, koneksi internet dan fasilitas komputer/laptop yang dimiliki setiap orang tidak sama. Lewat mailing list kami berbagi pengalaman tentang bagaimana kuliah online melalui media Zoom, misalnya. Bagaimana mahasiswa yang kurang konsentrasi apabila kuliah dilaksanakan dalam waktu panjang seperti layaknya kuliah umum biasa (90 menit yang membosankan), perlunya interaksi dengan mahasiswa setiap 10 atau 15 menit sekali, dan pengurangan penggunaan video bagi peserta kuliah apabila mahasiswa lebih dari 10 orang. Hal-hal seperti itu yang kami pelajari bersama dengan berbagi pengalaman.  Bagi saya, hari pertama bekerja/sekolah dari rumah terasa cukup unik. Saya mengetahui bahwa akan ada jadwal rapat virtual unit kami, bidang Ilmu Politik, dan anak saya yang duduk di kelas 1 SMA akan melakukan kerja kelompok melalui telepon dengan teman-teman sekelompoknya (5 orang). Jadi kami tahu bahwa kami harus berada di ruangan yang berbeda supaya suara kami tidak saling mengganggu satu sama lain. Belum lagi suasana rumah yang kurang kondusif karena sedang berlangsung pembangunan di gedung sebelah (yang sudah saya laporkan kepada ketua rapat). Saat rapat berlangsung, kami saling memandang dan menyapa seperti layaknya rapat kami di waktu normal, namun dengan kondisi virtual. Ketika anak saya datang mendekati, walau terkesan kurang profesional, saya menyampaikan keadaan-keadaan di sekeliling saya, sehingga rekan rapat di tempat berbeda akan lebih memahami. Yang penting tujuan rapat terlaksana dan kami dapat berkomunikasi. Hal-hal ini terjadi dan tampaknya dapat dimaklumi.   Kesiapan Mental dan Tantangan Pendidikan Jarak Jauh  Presiden Finlandia Sauli Ninistö mengatakan bahwa pada saat-saat krisis dan darurat seperti ini, kita akan saling membutuhkan satu sama lain4, dan itu benar adanya. Metode komunikasi kita menjadi berbeda. Dengan mengurangi kontak fisik secara langsung (physical distancing) bukan berarti kita tidak dapat berkomunikasi sosial. Intinya, kita menyampaikan pesan kita secara efektif baik melalui media telepon (berbicara) maupun media elektronik seperti pesan email ataupun media sosial (tulisan) tanpa bertemu apalagi bersentuhan.  Peringatan untuk menjaga jarak, rajin mencuci tangan, dan beretika bersin atau batuk dengan baik sudah diumumkan di banyak pintu masuk gedung terutama di supermarket. Keluar rumah juga boleh saja, asal tidak berkumpul dengan orang lain yang tidak perlu. Berjalan-jalan di luar rumah bersama anggota keluarga (dan hanya melambai dari jauh dengan tetangga), berbelanja hal yang diperlukan di toko, bahkan pergi ke perpustakaan—walau hanya diminta untuk meminjam dan mengembalikan buku serta tidak berlama-lama di dalamnya dan diminta segera pulang apabila urusan sudah selesai5.  Sistem pendidikan Finlandia memang lebih siap, salah satunya karena lembaga pendidikan dengan teknologi maju telah tersedia untuk memberlakukan online learning. Apalagi, dengan jalur koneksi internetnya yang relatif stabil dan masyarakatnya yang sudah memiliki fasilitas (laptop) dan teknologi (program yang terhubung dengan lembaga pendidikan), pendidikan jarak jauh pun semakin mudah dilakukan.  Fasilitas teknologi memang tersedia. Namun, tantangannya, untuk berkegiatan dari rumah secara bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga, diperlukan mental dan kedisiplinan waktu yang kuat supaya kami dapat bekerja dan belajar secara harmonis. Peran saya sebagai pengajar dan orangtua menuntut komitmen yang kuat untuk melaksanakan tugas dengan baik. Sebagai pengajar atau pekerja di universitas, saya tetap harus menyiapkan bahan kuliah, mempelajari aplikasi kuliah online, dan memilih media yang tepat, juga mendampingi siswa. Dan sebagai orangtua, saya juga harus siap membantu anak-anak dalam belajar, juga menjaga keberlangsungan dan kebersihan rumah yang kami tempati sepanjang waktu. Biasanya kami bertemu dan berkumpul bersama seluruh anggota keluarga pada malam hari atau akhir pekan. Namun dengan kondisi darurat ini, kami akan berada di rumah sepanjang waktu dan selalu bersama-sama. Jadi, sejak 16 Maret 2020, sekolah SMA sudah memulai pelajaran dari rumah. Nadya yang merasa tidak harus pergi ke sekolah tidak perlu bersiap-siap, namun tetap harus membuka laptopnya setiap pukul 8.15 untuk menerima mata pelajaran pertama (dan diabsen oleh gurunya) dalam media Microsoft Teams.  Pelajarannya akan berlangsung seharian, maksimal sampai pukul 15.45 tentu dengan jeda makan siang. Ia misalnya tidak perlu berganti dari baju tidur atau peduli dengan penampilan, namun Nadya mengeluh bahwa matanya capek dan tugas sekolahnya makin banyak, karena ia harus berada di depan layar komputer sepanjang waktu, mendengarkan guru atau berdiskusi kelompok dengan teman, namun setelah selesai pelajaran “sekolah” ia masih tetap harus di depan layar komputer untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolah tadi!  Tugas (saya, sebagai) orangtua lebih menantang lagi untuk mengurus anak di bawah kelas 4 SD. Untuk Reza yang masih kelas 1, ia masih harus didampingi mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Gurunya memberikan tugas setiap hari sesuai mata pelajaran minggu itu. Ada tugas harian apa yang harus dikerjakan untuk matematika, bahasa, ilmu alam, menggambar, olahraga, dan lain-lain. Dan tugas dalam buku atau kegiatan yang sudah Reza kerjakan akan saya foto dan unggah ke dalam Peda.net. Karena pelajaran Reza berlangsung sekitar empat jam, saya akan mendampingi dia belajar, sambil bolak-balik ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Kami memulainya sekitar pukul 9 pagi dan selesai sekitar pukul 12.30-an, untuk kami makan siang.  Jadi saya bertugas menjadi guru bagi Reza dan mendampinginya mengerjakan tugas. Setelah itu, hasilnya ini harus saya atur untuk difoto dan dikumpulkan (upload ke website). Jelas, saya tidak ada waktu untuk mengerjakan pekerjaan saya sendiri. Kalau pun ada waktu, biasanya sekitar pukul 14.00. Itu pun sekitar dua jam saja, karena pada pukul 16.00-an saya akan mengingatkan anak-anak untuk pergi ke luar rumah menghirup udara segar sebelum hari gelap, apalagi jika Reza memiliki tugas untuk memperhatikan alam sekitar dan olahraga di luar rumah (harus mengambil foto keadaan di luar). Kami akan berada di luar sekitar satu jam sampai waktu makan malam. Apabila diperlukan, kami akan berolahraga di dalam rumah. Dengan jadwal seperti ini, jelas saya tidak dapat beraktivitas seperti dalam keadaan normal. Waktu bekerja saya berkurang jauh. Merupakan tantangan sendiri untuk tetap menyiapkan bahan mengajar kuliah saya. Saya, yang biasanya mencoba mengurangi waktu bekerja di malam hari, di saat krisis ini bekerja efektif pada malam hari, saat Nadya mengerjakan tugas sekolahnya dan Reza sedang bermain sendiri. Waktu bekerja dan belajar mestilah dibagi dengan cerdas dan adaptif. Untunglah karena bekerja di bidang akademik saya memiliki jadwal yang cukup fleksibel, terlebih lagi ketua jurusan dan fakultas mengerti dengan keadaan saya yang memiliki anak usia sekolah yang masih perlu didampingi. Tidak terbayang apabila orangtua memiliki beberapa anak yang perlu didampingi pendidikan jarak jauhnya dan mereka harus tetap bekerja jarak jauh.   Ini masih di awal-awal masa bekerja di rumah dan mudah-mudahan kami tetap mampu menjalankan pendidikan jarak jauh kami dengan lebih efektif. Krisis virus korona di Finlandia ini akan berlangsung sampai 13 April 2020 dan semoga, setidaknya sampai saat itu, semangat belajar mengajar kami masih tetap tinggi.  Namun, belum seminggu, Nadya sudah merasa bosan. Dia ingin bermain skating bersama teman-temannya! Dan saya mengatakan bahwa pergi skating di luar (seperti di halaman sekolah) boleh saja, namun saya melarang untuk bertemu dengan teman-temannya untuk mendukung program pemerintah ini. Kita memiliki tanggung jawab sosial untuk mendukung program mengurangi penyebaran virus korona dengan tidak bertemu dengan orang lain dahulu saat ini. Situasi yang tidak nyaman ini harus dijalani dengan disiplin setidaknya sampai waktu yang ditentukan oleh pemerintah. Walau kita terhubung dengan internet sepanjang waktu, ternyata berkomunikasi online saja tidaklah menyenangkan. Manusia sebagai makhluk sosial masih memerlukan pertemuan langsung, tatap muka dan bersentuhan (menjabat tangan, berpeluk sapa, dll.). Krisis global berdampak besar karena dampaknya dirasakan bersama-sama di seluruh dunia, dan ini harus kita sikapi dengan serius. Kita belajar banyak dari kasus ini. Semoga saja krisis virus korona ini dan penyebarannya dapat berkurang, obatnya segera ditemukan, dan kita kembali menjalani kehidupan kita dengan normal. Penulis: Ratih D. Adiputri Catatan kaki: [1] https://yle.fi/uutiset/osasto/news/finland_closes_schools_declares_state_of_emergency_over_coronavirus/11260062, diakses 16 Maret 2020. [2] Contoh tugas sekolah jarak jauh anak saya yang kelas 1 SD, https://peda.net/jyvaskyla/kyparamaenkoulu/luokkien-sivut/1b-lissu-suokivi, diakses setiap hari mulai 18 Maret 2020. [3] Contoh berita terbaru dari website sekolah siswa SMA, https://www.gradia.fi/opiskelijoiden-ohjeet-koronavirustilanteessa, diakses 19 Maret 2020. [4] https://yle.fi/uutiset/osasto/news/president_niinisto_we_all_need_each_other/11260772, diakses 17 Maret 2020. [5] Sejak 20 Maret, perpustakaan pun ditutup, bersama pengumuman tempat-tempat umum dan perkumpulan lainnya, dan disarankan bertemu tidak lebih dari 10 orang dengan jarak aman.
  • 0 Comments
    520 Views
    0 Comments
    520 Views
    Berhadapan dengan Revolusi Industri 4.0, adakah kegairahan dalam diri kita meluap seperti yang dirasakan oleh tokoh Minke dalam novel Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer?  Revolusi 4.0 diperkirakan akan menjadikan dunia bisa kita kendalikan lewat sepotong perangkat di tangan, bak cupu manik astagina milik Dewi Windradi dalam cerita Ramayana. Ya, bila cupu itu dibuka, manik di dalamnya akan memperlihatkan isi dunia. Minke yang menikmati masa-masa puncak Revolusi 2.0 begitu terpesona dengan kilau sains dan pengetahuan. “Dalam hidupku, baru seumur jagung, sudah dapat kurasai: ilmu pengetahuan telah memberikan kepadaku suatu restu yang tiada terhingga indahnya,” begitu katanya. “Ilmu dan pengetahuan yang kudapatkan dari sekolah dan kusaksikan sendiri dalam hidup telah membikin pribadiku menjadi agak berbeda dari sebangsaku pada umumnya. Sungguh merugi generasi sebelum aku—generasi yang sudah puas dengan banyaknya jejak langkah sendiri di lorong-lorong kampungnya.” Dalam ilmu pengetahuan memang berkelindan kebudayaan dan nilai-nilainya. Pramoedya, melalui sosok Minke, telah menengarai hal itu, sementara Rudolf Mrazek menguaknya lebih jauh dalam bukunya, Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in a Colony. Di situ, Mrazek menguraikan perjumpaan masyarakat di Hindia Belanda dengan teknologi sebagai sebuah metode, proses berpikir, bukan teknik. Bagi Mrazek, perjumpaan manusia dengan teknologi baru “yang tidak seperti biasanya” membuka peluang untuk mengamati suatu budaya secara berbeda, lebih terbuka, dan lebih mendalam. Orang-orang di Hindia Belanda, kata Mrazek, seringkali bertindak, berbicara, dan menulis dengan bahasa dan perilaku yang halus. Begitu mereka menangani atau ditangani oleh teknologi baru, waktu, ruang, budaya, dan identitas mereka sebagai bangsa menjadi serbakikuk dan canggung. Kecanggungan itu bukan hanya menimpa masyarakat jajahan, melainkan juga para tuan penjajah. Demikian juga hasrat untuk memanfaatkan kekuatan teknologi, tidak hanya menjangkau para penguasa jajahan tetapi juga masyarakat koloni. Itu cerita tentang perjumpaan kita dengan teknologi di masa silam. Bagaimana kini, ketika kita dihadapkan pada Revolusi 4.0? Mari kita tinjau hasil survei YouGov yang menyebutkan responden asal Indonesia, Arab Saudi, dan Amerika Serikat sebagai tiga terbanyak yang paling tidak percaya terhadap perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Sebanyak 18 persen responden asal Indonesia mengakui adanya perubahan iklim nyata, “tetapi tidak disebabkan oleh ulah manusia”. Angka itu lebih tinggi dibanding responden Arab Saudi (15 persen), dan Amerika Serikat (13 persen). Sains telah memperlihatkan bahwa perubahan iklim diakibatkan oleh ulah manusia, namun banyak dari kita masih tidak mempercayainya. Sampai di sini mungkin kita tergoda untuk bertanya, mengapa tradisi dan praktik berpikir ilmiah kita masih lemah, jika bukan tidak berkembang? Barangkali ingatan lama kita tentang rumusan Mochtar Lubis tentang sifat manusia Indonesia segera menyembul.  Dalam pidato kebudayaannya 43 tahun silam, Mochtar Lubis bilang: manusia Indonesia memiliki enam sifat dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sifat-sifat itu adalah 1) Hipokritis dan munafik; 2) Enggan bertanggung jawab atas perbuatannya; 3) Berjiwa feodal; 4) Percaya takhayul; 5) Artistik; 6) Watak yang lemah. Tak ada sifat yang menunjukkan bangsa kita rasional, akar dari tumbuhnya ilmu pengetahuan. Boleh kita menyangkal Mochtar Lubis. Namun bukan itu urusan yang terpenting. Pokok soalnya adalah apakah kita kini punya sifat, seperti kata Minke, “Aku lebih mempercayai ilmu pengetahuan, akal.” Adakah rasa penasaran atau malah kagum di benak kita pada negara-negara tetangga kita, termasuk Tiongkok, yang dengan terang-benderang memperlihatkan keyakinannya akan keandalan teknologi dan sains? Berkat teknologi dan sains, pemerintah Xi Jinping baru-baru ini dengan sigap membangun rumah sakit sementara berkapasitas 1.000 tempat tidur dalam waktu sekitar 10 hari. Seluruh keputusan politik dan keuangan dikerahkan dan dipumpunkan berdasarkan keyakinan itu, tanpa keraguan. Semua itu untuk menghadapi wabah Covid-19 yang telah merenggut nyawa ratusan warganya, dan masih akan bertambah. Semoga kita tidak menutup mata sambil memoles-moles kisah Rara Jonggrang yang meminta Bandung Bandawasa untuk mendirikan seribu candi dalam semalam. Di bidang lain, bisnis dan pendidikan, Tiongkok juga memperlihatkan deretan capaian dalam dua dasawarsa belakangan ini, seperti dalam hal angka PISA (Programme for International Student Assessment) 2018. Negeri Tirai Bambu berhasil mengejar ketinggalannya baik di bidang bahasa, matematika, dan terlebih sains, untuk melompat ke tempat tertinggi; dari urutan ke-10 dalam PISA 2015 kini mengungguli Singapura dan duduk di urutan pertama. Sementara Indonesia dalam posisi 72 dari 77 negara (membaca), 72 dari 78 negara (matematika), dan 70 dari 78 negara (sains). Yuval Noah Harari dalam World Economic Forum di Davos lalu mengingatkan, ada tiga tantangan yang dihadapi umat manusia pada abad ke-21 ini: kehancuran ekologis, perang nuklir, dan disrupsi teknologi. Khusus untuk faktor terakhir, Yuval menyebutkan, dua hal yang bakal timbul akibat disrupsi teknologi. Pertama, terciptanya kelas yang tak berguna karena tidak lagi relevan dengan seluruh perkembangan yang ada, dan kedua, kolonialisasi data. Panoptikon—yang dikenalkan Foucault—tidak lagi dibatasi tembok penjara; “big brother” berupa algoritma akan selalu mengintai, menawarkan apa yang kita baca, apa yang kita beli, apa yang kita makan, bahkan sampai siapa pasangan kita, dan bagaimana suasana hati kita. Dalam situasi semacam ini, memberi tempat pada perkembangan sains sudah semakin mendesak. Indonesia membutuhkan ilmu pengetahuan tak hanya sebagai perangkat pelengkap kebijakan, tapi justru menjadi inti dari cara berpikir tentang masyarakat, lingkungan, masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dan, kita punya contohnya di masa lalu. Tentu kita masih ingat kisah seorang priayi agung kelahiran Tallo, Makassar, Karaeng Pattingalloang. Bangsawan ini mencintai ilmu eksakta, “Khususnya buku-buku mengenai matematika, tentang mana ia sangat ahli dan begitu besar cintanya kepada setiap bagian ilmu ini, sehingga mengerjakannya siang malam,” kata Pastor Alexander de Rhodes, seperti dikutip Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid 1. Masih kata de Rhodes, Pattingalloang punya perpustakaan yang luar biasa, dengan koleksi buku dan atlas Eropa. Dia juga pernah memesan bola dunia ukuran besar, atlas, dan teropong untuk mengobati rasa penasarannya pada dunia yang luas. Selain fasih bahasa Portugis, dia mempelajari bahasa Spanyol dan bahasa Latin. Bahasa terakhir, adalah bahasa penting untuk mempelajari ilmu pengetahuan klasik Eropa. Dengan membangkitkan semangat Pattingalloang itulah siapabilang.com mengangkat buku-buku sains yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia maupun Gramedia Pustaka Utama. Sebagian buku-buku itu ditulis oleh saintis terkemuka yang paham bagaimana mengomunikasikan sains dan menularkan budaya berpikir ilmiah kepada khalayak umum, tanpa harus merusak substansinya. Carl Sagan, Neil de Grasse Tyson, dan Jared Diamond adalah beberapa di antaranya. Buku yang lain adalah karya-karya pokok beberapa ilmuwan dunia yang selalu dikutip dan dikutip, tanpa mungkin pernah dibaca secara utuh, seperti buku Relativitas Einstein.   Sains dan teknologi bisa membawa orang melambung tinggi, sedemikian tinggi hingga menjadikan orang merasa serbatahu dan serbakuasa. Namun, jika sains dan teknologi diterima sebagaimana adanya dan rendah hati, buah pengetahuan kerap mencuatkan rasa “longsor yang menakutkan”. Kendati berbagai capaian telah diraih, seorang ilmuwan tak akan terhindar dari rasa perih, sesal, dan cemas yang mungkin bertahan lebih lama daripada kenikmatan yang didapat sebelumnya.   Ditulis oleh Christina M. Udiani.