Home Slider
Blogs

Blogs

View More
  • 0 Comments
    223 Views
    0 Comments
    223 Views
    1996. Suasana politik di Tanah Air memanas. Sabtu, 27 Juli, kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia di Jalan Diponegoro 58, Jakarta, diambil-alih secara paksa. Peristiwa Kudatuli (Kerusuhan dua puluh tujuh Juli) ini menjadi penanda penting awal berdirinya KPG, 1 Juni 1996. Waktu itu, kami sama sekali tidak bisa menebak apa yang bakal terjadi setelah pecah Kudatuli—setahun, dua tahun, hingga lima tahun mendatang. Akankah proses demokratisasi di Tanah Air terus menggelinding? Akankah rezim Orde Baru yang mulai uzur tumbang? Kendati demikian, kami memiliki pengetahuan sejarah bahwa munculnya suatu era seringkali tak terduga dan tak terpikirkan. Ketakterdugaan yang menghasilkan unintended consequences, serba-akibat yang tak diperhitungkan. Menengok kembali ke tahun 1996, jika direnungkan, unintended consequences inilah yang melandasi kerja KPG sebagai penerbit. KPG harus mampu menyiapkan kuda-kuda bagi bangsa agar “prigel” menghadapi serba-perubahan lewat buku-buku yang disajikan secara populer dan jernih menyampaikan duduk perkara. Semua diringkas dalam tagline: Untuk Membaca Zaman. Karena itulah—di tengah sandyakalaning Orde Baru—buku pertama yang kami terbitkan adalah saduran karya Niccolò Machiavelli dalam bentuk Cergam, yakni Politik Kerakyatan dan Politik Kekuasaan. Kedua buku ini kami terbitkan agar masyarakat memiliki secuil pengetahuan dan timbangan atas watak-watak manusia dan kekuasaan jika mereka dihadapkan pada pancaroba kekuasaan di Tanah Air. Dalam berbisnis, pegangan moral kami adalah prinsip-prinsip yang dijunjung tinggi oleh pendiri Kompas-Gramedia (KG), PK Ojong dan Jakob Oetama: Kita berbisnis tidak dengan cara mengipas-ngipas kelemahan bangsa, melainkan dengan membangkitkan seluruh potensi terbaik bangsa ini. Maka, perusahaan harus hidup dalam denyut nadi masyarakat. Berkembangnya perusahaan adalah akibat dari berkembangnya masyarakat. Kami waktu itu juga sadar bahwa KPG tidak mungkin berkembang tanpa memiliki jaringan yang luas—baik itu akademikus, budayawan, peneliti, penulis, editor, penerjemah, desainer grafis, ilustrator. Maka kami merumuskan bahwa redaksi dan produksi KPG adalah pro-aktif redaksi dan produksi. Dengan kata pro-aktif, kami harus memiliki jaringan seluas-luasnya. Tanpa mereka semua KPG tidak mungkin berkembang. Jaringan yang kami maksudkan bukan sekadar jaringan profesional, melainkan juga kawan diskusi. Sedari awal KPG memang dimaksudkan sebagai medan pergaulan bagi kerja-kerja kebaikan dan kreatif.   Demikianlah, serba-akibat yang tak diperhitungkan, duduk perkara, hidup dalam denyut nadi masyarakat, serta membangun jaringan dan bekerja secara kolaboratif akhirnya menjadi “kredo” bagi kerja-kerja KPG. Kini, merenungkan 25 tahun kami berkarya di Tanah Air serta melewati dua tahun Pandemi Covid-19, semakin menyadarkan kami bahwa pekerjaan rumah bangsa ini hanya bisa diselesaikan bersama-sama, holopis kuntul baris. Sudah saatnya kita “Bersama Menjaga Nusa”. Bersama senantiasa terjaga, tak terlena. Kini, jika diajukan pertanyaan penting apa bagi bangsa ini untuk dijawab, ada baiknya kita bersama-sama mengingat kembali kiritik Mochtar Lubis tahun 1977. Dalam pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki dengan judul “Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban”, Mochtar dengan lugas mengupas karakter orang Indonesia sebagai: Munafik, tidak mau bertanggung jawab, berperilaku feodal, percaya pada takhayul, lemah karakternya, dan berbakat seni. Benarkah karakter itu masih menempel hingga sekarang? Akhirnya, dengan hati tulus, kami mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah menemani KPG melewati pasang-surut sebagai penerbit dan ikut bersama-sama menjaga Nusa.  Penulis: Candra Gautama
News
NEWS