The Day Hope and History Rhymed in East Timor
Sinopsis In 1999, in a remote corner of the world, something almost miraculous happened. After 500 years of colonialism, the political stars finally aligned and the people of Timor-Leste, written off as losers in the face of irreversible odds, successfully voted for freedom. Twenty years on, Pat Walsh remembers the day like it was yesterday. In this colourful collection of stories about Timor-Leste, he also draws on his many years living in Dili to recall with wry affection the city’s traffic, roosters and a motley array of characters. The latter range from a Norwegian bishop to a cockfight promoter, an Australian called Dagg, a honey seller, a cat with only six lives, a girl called Menahaha, and two intellectual giants whose contributions to their human rights are largely unknown in Timor-Leste. Believing that the past is a friend to lean on, not an enemy, he also takes the opportunity to remind the Indonesian military of their failings. But, in the same vein, he also laments the futile loss of Indonesian lives, the damage to Indonesia’s dignity, and the subversion of the rules-based international order that marked the 24 year occupation. Written with touches of humour, The Day Hope and History Rhymed in East Timor is a personal, insightful, and sometimes whimsical, set of narratives that fills a gap between the academic and the trivial on this endearing, but improbable, new nation. Spesifikasi Produk Penulis: Pat Walsh Kategori: Nonfiksi, Sosial Budaya Terbit: 29 Agustus 2019 Harga: Rp 78.000 (Ebook only) Tebal: 269 halaman Ukuran: 135 mm x 200 mm Sampul: Softcover ISBN: 9786024812058 ID KPG: 591901674 Usia: 15+ Bahasa: Inggris Penerbit: KPG E-book Gramedia Digital Buku Terkait         #TheDayHopeandHistoryRhymedinEastTimor #PatWalsh #Nonfiksi #Culture #PenerbitKPG
Duta antara Dua Kutub
Sinopsis Buku ini mendedahkan perjalanan penulis—Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia—dalam mengarungi kehidupan sebagai seorang diplomat. Selama 38 tahun Esam Abid Al Thagafi mendapat kehormatan untuk mengabdi kepada agama, raja, dan tanah airnya, berkelana di antara lobi-lobi dan riuh politik serta kebudayaan beragam bangsa. “Dunia diplomasi selalu merangsang rindu sampai ke ubun-ubun dan terus mengalir di dalam darahku,” ujarnya Ditulis dengan gaya bertutur, penulis banyak memasukkan sisi human interest dalam memoar ini. Ketika berdinas di Washington, misalnya, dia menjadi saksi mata Peristiwa 11 September 2001. “Tanggal 11 September 2001 seperti hari-hari lainnya. Hari itu aku keluar rumah pagi-pagi seperti biasa menuju kedutaan. Jalan 66 yang menghubungkan Virginia dan Washington sangat padat dan macet tidak seperti biasanya. Gedung Pentagon berada di sekitar jalan ini. Aku lihat asap membumbung berbentuk awan hitam di atas gedung itu. Saat itu aku baru tahu bahwa ada peristiwa besar tengah terjadi di negeri ini. Aku segera menghidupkan radio dan mencari berita, dan segera aku dapatkan Amerika Serikat tengah diserang oleh teroris, serangan atas Twin Towers WTC di New York...,” tulisnya.  Tak lupa, dia kisahkan kecemasan-kecemasan akibat perang yang melibatkan Arab Saudi. Membaca buku ini kita juga mendapat gambaran kehidupan sehari-hari di Arab Saudi, terutama kecintaan dan penghormatan kepada orang tua dan orang yang dituakan. Mengharukan. Spesifikasi Produk Penulis: Esam Abid Al Thagafi Editor: Candra Gautama Kategori: Nonfiksi, Biografi Terbit: 21 Oktober 2020 Harga: Rp 125.000 Tebal: 274 halaman Ukuran: 140 mm x 210 mm Sampul: Softcover ISBN: 9786024814540 ID KPG: 592001833 Usia: 15+ Bahasa: Indonesia Penerbit: KPG Dapatkan buku cetak di: - Gramedia.com - Gramedia Store - Siapasangka E-book Gramedia Digital Buku Terkait        #DutaantaraDuaKutub #EsamAbidAlThagafi #DutaBesar #HubunganInternasional #Nonfiksi #Biografi #PenerbitKPG
Pengajuan Konstitusionalitas Perda
Sinopsis Pemisahan kewenangan pengujian peraturan perundang-undangan antara Mahkamah Konstitusi dan Mahkamah Agung dalam sistem ketatanegaraan Indonesia membuat prinsip checks and balances, supremasi konstitusi, dan kepatuhan pada prinsip hierarki norma tidak bekerja secara ideal. Desain konstitusional baru tersebut—yang meletakkan pengujian perda sebagai lingkup kewenangan Mahkamah Agung—telah mengikis kesempatan norma-norma yang dikandung suatu perda untuk bisa diuji konstitusionalitasnya berlandaskan UUD 1945.  Buku ini, yang diangkat dari disertasi Ismail Hasani, menawarkan pemodelan baru mekanisme pengujian peraturan perundang-undangan sebagai respons terhadap keberadaan perda-perda intoleran-diskriminatif. Perda-perda tersebut hingga kini belum memperoleh penyikapan ketatanegaraan dan masih menjadi instrumen pelembagaan diskriminasi. Pembaca diajak memahami betapa mendesak perubahan yang harus dilakukan demi menegakkan integritas hukum Indonesia.  “Ismail Hasani telah menyampaikan satu hal yang mesti disampaikan seorang peneliti dan akademisi hukum tata negara. Tebaran pemikiran dalam buku ini akan menjadi catatan penting dalam ranah pemikiran hukum tata negara di negeri ini.” —Saldi Isra, Hakim Konstitusi RI dan Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas  “Penyatuatapan mekanisme pengujian peraturan perundang-undangan di bawah Mahkamah Konstitusi selalu dijadikan solusi meski sulit karena mensyaratkan amandemen UUD. Pemikiran alternatif penulis menarik disimak dan menjadi referensi.” —Enny Nurbaningsih, Hakim Konstitusi dan Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada  “Bagi Anda yang mau mendalami isu pembelahan kewenangan pengujian peraturan perundang-undangan, buku ini layak untuk direkomendasikan.” —Zainal Arifin Mochtar, SH, LLM, Dosen Hukum Tata Negara Universitas Gadjah Mada  “Buku ini menyajikan jalan keluar atas kebuntuan merespons perda intoleran diskriminatif dalam perspektif ketatanegaraan. Ditulis oleh akademisi-aktivis, buku ini layak untuk dibaca, didiskusikan, dan dikembangkan.” —Hendardi, Ketua Badan Pengurus Setara Institute Spesifikasi Produk Penulis: Ismail Hasani Editor: Candra Kategori: Nonfiksi, Hukum Terbit: 12 Oktober 2020 Harga: Rp 140.000 Tebal: 274 halaman Ukuran: 150 mm x 230 mm Sampul: Softcover ISBN: 9786024814823 ID KPG: 592001850 Usia: 15+ Bahasa: Indonesia Penerbit: KPG Dapatkan buku cetak di: - Gramedia.com - Gramedia Store - Siapasangka E-book Gramedia Digital Buku Terkait           #PengajuanKonstitusionalitasPerda #IsmailHasani #SetaraInstitute #Nonfiksi #Hukum #PenerbitKPG
Mengadvokasi Hak Sipil Politik
Sinopsis Buku ini merupakan kumpulan artikel Hendardi yang tersebar di berbagai media. Semua dalam bingkai penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM), yang digelutinya sejak mahasiswa hingga kemudian aktif di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), lalu mendirikan Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) serta Setara Institute. Tema yang penting disorot adalah hak berpendapat, satu dari tiga komponen hak sipil dan politik—selain hak menjalankan keyakinan atau agama serta hak berserikat dan berkumpul. Pasalnya, pelanggaran terhadap hak sipil dan politik kerap terjadi ketika warga masyarakat menyuarakan kritik terhadap negara dan aparatnya. Maka, dalam perspektif penghormatan HAM dan perkembangan demokrasi, menyelesaikan perbedaan pendapat politik melalui mekanisme peradilan dan penghukuman jelas suatu langkah surut. Padahal, kritik yang disampaikan lewat tulisan maupun demonstrasi merupakan bagian integral dari demokrasi. Demonstrasi adalah cara menampilkan ketidakpuasan politik atau sosial.  Dalam artikel “Demo Tandingan”, Januari 1996, elemen negara pun pernah melancarkan demonstrasi. Hendardi menulis, “Pada 17 Oktober 1952, massa militer yang dipimpin Kolonel AH Nasution melancarkan demo ke Istana Negara, bahkan dengan mengusung meriam untuk mendesakkan dialog dengan Presiden Sukarno.” Membaca buku ini kita seolah disadarkan kembali bahwa setiap upaya represif untuk memangkas hak berpendapat serta hak sipil dan politik lain harus ditolak. Spesifikasi Produk Penulis: Hendardi Editor: Candra Gautama Kategori: Nonfiksi, Politik Terbit: 14 Oktober 2020 Harga: Rp 80.000 Tebal: 345 halaman Ukuran: 150 mm x 230 mm Sampul: Softcover ISBN: 9786024814779 ID KPG: 592001847 Usia: 15+ Bahasa: Indonesia Penerbit: KPG Dapatkan buku cetak di: - Gramedia.com - Gramedia Store - Siapasangka E-book Gramedia Digital Buku Terkait           #MengadvokasiHakSipilPolitik #Hendardi #SetaraInstitute #Nonfiksi #Politik #PenerbitKPG
Membela Hak Ekosob dan Melawan Korupsi
Sinopsis Pembangunan kerap kali berseberangan dengan hak asasi manusia. Hendardi berpendapat, rezim di negara-negara berkembang, tak terkecuali Indonesia pada masa Orde Baru, cenderung mengatasi masalah tersebut dengan menekan hak sipil dan hak politik masyarakat, terutama di bidang ekonomi. Dia mengatakan, salah satu persoalan akut dalam pembangunan—pengentasan kemiskinan—membutuhkan peran rakyat. Namun, proyek padat modal oleh pemerintah Orde Baru dilaksanakan tanpa partisipasi publik dan kontrol masyarakat. Akibatnya, pembangunan yang dilakukan secara banal menimbulkan masalah baru, seperti soal pertanahan yang cenderung merugikan masyarakat kelas bawah. Kebocoran anggaran juga sering terjadi karena ketiadaan keterbukaan kepada publik.  Buku ini merangkai kumpulan artikel Hendardi, mantan Direktur YLBHI, di media massa selama 1993–2014. Tampak, sejak awal sorotan Hendardi tajam terhadap praktik-praktik kebijakan publik yang menguntungkan segelintir kelompok, terutama kroni Soeharto dan keluarganya. Berbagai peristiwa dia bahas dengan pijakan konsisten, bahwa keterbukaan, demokratisasi, dan HAM mutlak diwujudkan oleh pemerintah. Membela Hak Ekosob dan Melawan Korupsi sekaligus menawarkan arah bagi berbagai permasalahan ekonomi, sosial, politik, dan hukum hari ini. Betapa tidak. Sebagian pekerjaan rumah masa lalu masih tersisa hingga kini. Spesifikasi Produk Penulis: Hendardi Editor: Candra Gautama Kategori: Nonfiksi, Politik Terbit: 14 Oktober 2020 Harga: Rp 95.000 Tebal: 381 halaman Ukuran: 150 mm x 230 mm Sampul: Softcover ISBN: 9786024814755 ID KPG: 592001849 Usia: 15+ Bahasa: Indonesia Penerbit: KPG Dapatkan buku cetak di: - Gramedia.com - Gramedia Store - Siapasangka E-book Gramedia Digital Buku Terkait           #MembelaHakEkosobdanMelawanKorupsi #Hendardi #SetaraInstitute #Nonfiksi #Politik #PenerbitKPG
Konsolidasi Demokrasi dan Kepemimpinan
Sinopsis Tulisan-tulisan Hendardi yang terangkum dalam buku ini mendokumentasikan dan menganalisis periode sejarah penting ketika Indonesia mengalami perubahan dari Orde Baru menuju era Reformasi. Dengan gaya-gaya tulisan cenderung lugas, pembaca dengan jernih dapat memahami persoalan yang diajukan. Ambil misal artikel “Interpelasi DPR: Ajang Cuci Baju Kotor”, 29 Juli 2000. Dia menyoroti sidang pengajuan hak interpelasi DPR kepada Presiden Abdurrahman Wahid beberapa hari sebelumnya. Dia menulis, “Ketimbang suatu manifestasi dari kontrol DPR terhadap pemerintah, sidang DPR tersebut telah dijadikan ajang ‘cuci baju kotor’ oleh sebagian partai politik di DPR, terutama Golkar, dengan Presiden Abdurrahman Wahid sebagai papan bilasnya.”  Di tulisan yang sama, dia menyayangkan energi politik yang demikian besar di DPR tidak dikerahkan untuk mendorong perhatian nasional dalam kemelut yang tengah terjadi di Maluku. Maka membaca buku ini terlihat jelas Hendardi memahami dengan cermat isu-isu seputar demokrasi, relasi kekuasaan dan politik, serta kepemimpinan nasional.  Sebagai dokumentasi, buku ini sekaligus mengajak kita memahami betapa pentingmenjaga keberpihakan bagi upaya penguatan masyarakat sipil. Inilah sumbangan Hendardi, aktivis hak asasi manusia (HAM) yang pernah berkiprah di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), lalu mendirikan Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) serta Setara Institute. Spesifikasi Produk Penulis: Hendardi Editor: Candra Gautama Kategori: Nonfiksi, Politik Terbit: 14 Oktober 2020 Harga: Rp 77.000 Tebal: 288 halaman Ukuran: 150 mm x 230 mm Sampul: Softcover ISBN: 9786024814731 ID KPG: 592001849 Usia: 15+ Bahasa: Indonesia Penerbit: KPG Dapatkan buku cetak di: - Gramedia.com - Gramedia Store - Siapasangka E-book Gramedia Digital Buku Terkait            #KonsolidasiDemokrasidanKepemimpinan #Hendardi #SetaraInstitute #Nonfiksi #Politik #PenerbitKPG
Jejak Aktivisme Hendardi
Sinopsis Pada 1978, Hendardi—yang masih “anak bawang” di Institut Teknologi Bandung—terkaget-kaget dengan keberanian para seniornya mengeluarkan pernyataan politik: tidak menghendaki lagi Soeharto sebagai Presiden Indonesia. Penangkapan dan penahanan terhadap para pemimpin dan ratusan aktivis mahasiswa pun terjadi. Kampus diduduki tentara dan “dinormalkan”, rektor ITB dicopot dan diganti dengan rektorium. Perangkat Badan Koordinasi Kemahasiswaan ditanamkan untuk menggencet kebebasan berorganisasi atau berserikat. Itulah “medan pertempuran awal” Hendardi, tempat dia memperoleh pendidikan dan pengalaman politik secara langsung. Pengalaman tersebut membentuk perjalanan hidup selanjutnya. Dia memutuskan berkecimpung di bidang pembelaan hukum dan hak asasi manusia—meski berlatar belakang pendidikan teknik sipil. Mulai dari keterlibatannya dalam Komite Pembelaan Mahasiswa, Lembaga Bantuan Hukum Bandung, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI), hingga Setara Institute. Dia membela aktivis mahasiswa yang ditahan aparat negara secara semena- mena, petani yang lahannya diambil alih secara paksa, hingga tahanan politik seperti Xanana Gusmao. Berkat kiprahnya, Hendardi memperoleh penghargaan dari organisasi HAM terkemuka di Amerika Serikat, Human Rights Watch. Buku ini memuat percik-percik gagasan Hendardi yang ditulis di sejumlah media nasional. Dengan jernih dia mengupas berbagai persoalan dan tantangan terkait penegakan hak asasi manusia, negara hukum, dan kehidupan kebangsaan. Meski ditulis dalam rentang 1990–2000, banyak gagasannya masih relevan bagi Indonesia hari ini. Spesifikasi Produk Penulis: Hendardi Editor: Candra Gautama Kategori: Nonfiksi, Politik Terbit: 14 Oktober 2020 Harga: Rp 110.000 Tebal: 533 halaman Ukuran: 150 mm x 230 mm Sampul: Softcover ISBN: 9786024814717 ID KPG: 592001846 Usia: 15+ Bahasa: Indonesia Penerbit: KPG Dapatkan buku cetak di: - Gramedia.com - Gramedia Store - Siapasangka E-book Gramedia Digital Buku Terkait           #JejakAktivismeHendardi #SetaraInstitute #Nonfiksi #Politik #PenerbitKPG
Komik Horor Nusantara: Setan Pesugihan
Sinopsis Yakin, kamu aman dari gangguan setan? Kalau sudah baca cerita-cerita ini, dijamin kamu akan sulit memejamkan mata! Kemiskinan, ambisi, dan dendam sering dijadikan alasan melakukan pesugihan. Demi mencari jalan instan, ada saja orang yang rela menjalin kerja sama dengan setan. Ancaman berupa tumbal nyawa diri sendiri atau keluarga, bahkan tak cukup kuat untuk menghentikan para pencari jalan pintas…. Ada setan-setan pesugihan yang sudah dikenal, seperti buto ijo, tuyul, dan babi ngepet. Namun juga banyak yang belum banyak diketahui, misalnya pesugihan bulu genderuwo yang mensyaratkan seseorang mencabut bulu genderuwo agar hidupnya selalu beruntung. Dibahas juga tentang ilmu-ilmu pesugihan yang efeknya membuat bulu kuduk berdiri! Bukan tak mungkin, si pelaku pesugihan berubah beringas, bahkan menjadi makhluk gaib menyeramkan. Misalnya, seseorang dapat menjelma menjadi kuyang, sosok tanpa kepala pemangsa bayi karena ingin hidup abadi. 20 komik dalam Komik Horor Nusantara: Setan Pesugihan mengisahkan pertemuan mencekam tokoh-tokoh dengan setan-setan pesugihan yang haus darah. Spesifikasi Produk Penulis: Bae Dongsun Ilustrator: Lee Taesoo Editor: April Kategori: Fiksi, Komik Horor Terbit: 28 Oktober 2020 Harga: Rp 90.000 Tebal: 144 halaman Ukuran: 170 mm x 220 mm Sampul: Softcover ISBN: 9786024814526 ID KPG: 592001835 Usia: 15+ Bahasa: Indonesia Penerbit: INDI GO PRESS Dapatkan buku cetak di: - Gramedia.com - Gramedia Store - Gramedia Official Shop di Shopee Mall - Gramedia Official Store di JD.ID - Siapasangka Buku Terkait           #KomikHororNusantara #KomikHororNusantaraSetanPesugihan #LeeTaesoo #BaeDongsun #Fiksi #Komik #Horor #INDIGOPRESS #PenerbitKPG
Amrus Natalsya: Mutiara dari Bumi Tarung
Sinopsis Buku ini membawa Anda dalam jiwa dan pikiran Amrus Natalsya–seorang pematung dan perupa terkemuka, pendiri Sanggar Bumi Tarung bersama Misbach Tamrin–lewat karya-karyanya yang tersimpan dalam Museum Ezham milik kolektor EZ Halim. Amrus dikenal sebagai seniman dengan elan vital yang luar biasa, bahkan ketika hidupnya diempaskan ke lubang penderitaan oleh penguasa politik setelah pecah Peristiwa G30S pada 1965. “Ia sudah terbiasa dengan gelora hidup. Yang sangat menyenangkan diterima dengan senyum biasa. Yang merisaukan dan menyakitkan juga diterimanya dengan biasa,” kata sejumlah rekannya sesama perupa. “Amrus pantang membuat karya replika. Beliau ingin setiap orang yang melihat patung ‘Kapal Cheng Ho’ ciptaannya tahu dan menyadari bahwa itu karya otentik dari seorang seniman Indonesia. Semangat dan jiwa keindonesiaan inilah yang mewarnai seluruh perjalanan hidup berkeseniannya.” –EZ Halim “…Patung Amrus yang ‘mengungkap misteri dari bentuk’ itu dianggap sebagai jimat. Dan kita tahu, jimat dalam ranah sosial lama-kelamaan mengandung sesuatu yang beraroma mistik.” – Agus Dermawan T. “…kami sudah tahu bahwa Amrus bukan saja terkenal sebagai pematung kayu yang kuat, melainkan juga pelukis yang karyanya di atas kanvas tak kalah bermutu. Penampilannya yang lebih muda cukup berwibawa, dihormati, dan disegani.” – Misbach Tamrin. Spesifikasi Produk Penulis: EZ Halim Editor: Candra Gautama Kategori: Nonfiksi, Seni, Biografi Terbit: 28 September 2020 Harga: Rp 155.000 Tebal: 230 halaman Ukuran: 180 mm x 230 mm Sampul: Softcover ISBN: 9786024814052 ID KPG: 592001801 Usia: 15+ Bahasa: Indonesia Penerbit: KPG Dapatkan buku cetak di: - Gramedia.com - Gramedia Store - Siapasangka Buku Terkait         #AmrusNatalsyaMutiaradariBumiTarung #AmrusNatalsya #EZHalim #Nonfiksi #Seni #Biografi #PenerbitKPG
The Perks of Being A Wallflower
Sinopsis Hai, Kawan,  Aku akan menyebut orang-orang dengan nama lain atau panggilan umum karena aku tidak ingin kau menemukanku. Aku tidak mencantumkan alamat pengirim juga karena alasan yang sama. Aku tidak bermaksud buruk. Sungguh.  * Terbit pada 1999, The Perks of Being a Wallflower adalah karya klasik modern yang menjadi cermin pengalaman remaja—semua dari sudut pandang, pendengaran, dan surat-surat sang narator, Charlie. Kita tidak tahu di mana Charlie tinggal. surat-surat Charlie yang menyentuh hati semata-mata dialamatkan kepada “Hai, Kawan”, mengantar pembaca ke jantung pergulatan seorang anak yang ingin diterima, berjuang untuk “berpartisipasi”, dan berusaha menghadapi dunia dalam perjalanan menuju kedewasaan—kali ini dalam edisi spesial dua puluh tahun kemudian, beserta surat baru dari Charlie dewasa.  * “The Perks of Being a Wallflower adalah kisah abadi untuk tiap anak muda yang perlu memahami bahwa dia tidak sendiri. Secercah cahaya pada suatu masa yang mungkin gelap. Sekadar catatan, saya menonton adaptasi filmnya empat kali. Bacalah dulu bukunya. Kalian takkan pernah melupakannya.” —Judy Blume Spesifikasi Produk Penulis: Stephen Chbosky Editor: Anida Nurrahmi Kategori: Fiksi, Novel Terbit: 21 Oktober 2020 Harga: Rp 80.000 Tebal: 278 halaman Ukuran: 135 mm x 200 mm Sampul: Softcover ISBN: 9786024814700 ID KPG: 592001845 Usia: 17+ Bahasa: Indonesia Penerbit: POP Dapatkan buku cetak di: - Gramedia.com - Grobmart - Gramedia Official Shop di Shopee - Gramedia Store - Siapasangka Buku Terkait     #ThePerksofBeingAWallflower #StephenChbosky #Fiksi #Novel #PenerbitPOP #PenerbitKPG
Nasir Tamara
  Nasir Tamara, yang pada 1970-an adalah wartawan Sinar Harapan di Paris, merupakan satu-satunya wartawan Indonesia--satu di antara dua wartawan Asia--yang mengikuti perjalanan pulang bersejarah Ayatullah Khomeini dari Paris ke Tehran di awal Januari 1979.  Di depan matanya berlangsung revolusi Iran: perubahan struktur kekuasaan, ekonomi, politik dan sosial. Seorang raja yang ditunjang oleh tentara urutan kelima terkuat di dunia digulingkan oleh rakyat tak bersenjata di bawah pimpinan seorang ulama yang hampir 15 tahun berada di pengasingan.  Pernah kuliah di Akademi Sinematografi, LPKJ, Jakarta di Falkutas Sastra, Universitas Indonesia, jurusan Antropologi. Nasir Tamara mendapat beasiswa dari pemerintah Prancis di tahun 1974 untuk belajar jurnalistik di Centre de Formation des Journalistes, Paris, yang dipimpin oleh Hubert Beuve-Mery, pendiri korang terkenal Le Monde. Lalu dilanjutkan di Institut Francais de Presse, Universite de Paris II sampai selesai. Semetara itu diikutinya kuliah Ilmu Politik di Universite de Paris I Sorbonne dan Antropologi di Univesite de Paris VII sampai mendapat gelar S2 di masing-masing disiplin. Tahun 1981 ia mendapat gelar doktor Sejarah dan Antropologi dari Ecole des Hauters D'Etudes en Sciences Sociales, Universite de Paris.  Nasir Tamara pernah bekerja sebagai koresponden Tempo di Paris. Di Eropa ia praktek kerja di kantor berita Prancis, AFP, Paris, dan di harian The Birmingham Post Inggris. Nasir Tamara yang terkadang menulis di mingguan Far Eastern Economic Review serta harian Suara Pembaruan dan Kompas, juga turut mendirikan harian Republika, majalah Kapital, dan Global TV. Selain Revolusi Iran (KPG, 2017), dia menulis, menerjemahkan, dan menjadi editor sekitar 20 buku, di antaranya Agama dan Dialog Antar Peradaban, Peran Iran Perang Irak, Hamka di Mata Hati Umat, Indonesia in the Wake of Islam, Di Puncak Himalaya Sang Dwiwarna Kukibarkan, Aburizal Bakrie: Bisnis dan Pemikiriannya, Indonesia tahun 2000, Mencuri Uang Rakyat: Korupsi di Indonesia, Indonesia Rising: Islam Democracy and the Rise of Indonesia.    #Profil #PenulisKPG #NasirTamara #RevolusiIran #PenerbitKPG 
1 like
Dr. Saiful Mujani
SAIFUL MUJANI, Asosiate Professor Ilmu Politik di Universitas Negeri Syarif Hidayatullah, adalah intelektual dan pendiri perusahaan penelitian politik paling berpengaruh di Indonesia sekarang ini--Saiful Mujani Research and Constulting (SMRC). Seorang pelopor utama penelitian survei di Indonesia, Saiful Mujani juga mendirikan Lembaga Survei Indonesia dan bertindak sebagai direkturnya dari 2004 hingga 2009.  Selain menjadi mantan direktur penelitian dan pengembangan Metro TV (saluran berita pertama di Indonesia dan sampai sekarang masih sangat diperhitungkan), Mujani secara teratur tampil di Metro TV serta TVOne dan SCTV. Ia juga menulis untuk majalah mingguan nasional terkemuka, Tempo, dan koran-koran nasional seperti Kompas, Media Indonesia, dan Koran Tempo. Publikasi-publikasi akademisinya mencakup berbagai artikel di American Journal of Political Science, Comparative Political Studies, Journal of Democracy, Asian Survey, dan Japanese Journal of Political Studies dan ia (bersama dengan Dr Liddle and Thomas Pepinky) mendapatkn anugerah tulisan terbaik dari American Political Science Assiociation pada Konferensi Tahunan 2009-nya. Salah satu kajiannya yang ditulis bersama Prof. William Liddle dan Kuskridho Ambardi tentang perilaku para pemilih di Indonesia telah dibukukan dengan judul "Kaum Demokrati Kritis: Analsis Perilaku Pemilih Indonesia" (KPG, 2019).   #Profil #PenulisKPG #SaifulMujani #RWilliamLiddle #KuskridhoAmabardi #KaumDemokratKritis #Nonfiksi #Politik #PenerbitKPG
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Didirikan tahun 1974, Gramedia Pustaka Utama merupakan bagian dari Kompas Gramedia, jaringan media terbesar di Indonesia. Fokus terbitannya kepada 12 bidang utama: Fiksi Dewasa, Fiksi Remaja, Fiksi Anak, Sastra - Literatur, Bisnis Ekonomi, Social Science, Pengembangan Diri, Kamus & Referensi, Boga, serta Busana & Kecantikan. Selama lebih dari 40 tahun penerbit Gramedia Pustaka Utama telah menjadi rumah bagi banyak penulis dan buku-buku terbaik di Indonesia. Beberapa nama penulis seperti Ahmad Tohari, Eka Kurniawan, Ahmad Fuadi, Marga T., Alberthiene Endah, Clara Ng., Agustinus Wibowo, Hermawan Kertajaya, Franz Magnis-Suseno, serta penulis internasional seperti Enid Blyton, Paulo Coelho, J.K. Rowling, Agatha Christie, J.R.R. Tolkien, Malcolm Gladwell, Dale Carnegie mempercayakan karyanya untuk selalu diterbitkan melalui Gramedia Pustaka Utama. Karya-karya terbitan Gramedia Pustaka Utama juga telah berhasil meraih berbagai penghargaan, baik nasional maupun internasional, di antaranya Kusala Sastra Khatulistiwa, Penghargaan IKAPI, Islamic Book Award, Anugerah Pembaca Indonesia, Gourmand World Cookbook Awards, Liberaturpreis Jerman, World Reader's Award, hingga dinominasikan dalam penghargaan Man Booker International Prize. Di samping itu, Gramedia Pustaka Utama juga selalu mendukung berbagai kegiatan pengembangan literasi di Indonesia dan Asia Tenggara, dengan berpartisipasi aktif dalam Ubud Writers & Readers Festival, Makassar International Writers Festival, ASEAN Literary Festival, serta Singapore International Writers Festival. Saat ini, dengan lebih dari 30 ribu judul buku yang telah diterbitkan serta jalinan kerjasama dengan lebih dari 200 penerbit asing terkemuka dari AS, Belanda, Jerman, Belgia, Brasil, Denmark, Hong Kong, India, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Malaysia, dan Swis, Gramedia Pustaka Utama telah berhasil mengukuhkan posisinya sebagai salah satu penerbit buku terbaik di Indonesia. Di masa depan Gramedia Pustaka Utama berkomitmen untuk tetap berusaha menjadi agen pembaruan bagi bangsa: memilih dan memproduksi buku-buku yang berkualitas, yang  memperluas wawasan, memberikan pencerahan, dan merangsang kreativitas berpikir, dengan dukungan teknologi. Founded in 1974, Gramedia Pustaka Utama is a part of Kompas Gramedia, Indonesia's largest media network. Gramedia Pustaka Utama focuses its publication on these 12 major areas: Adult Fiction, Young Adult Fiction, Children's Books, Literature, Business & Economy, Social Sciences, Self Improvement, Dictionary & Reference, Culinary Books and Beauty & Fashion. For more than 40 years Gramedia Pustaka Utama have been publishing many of Indonesia's best books and home to some of the finest writers. Indonesia's most established authors such as Ahmad Tohari, Eka Kurniawan, Ahmad Fuadi, Marga T., Alberthiene Endah, Clara Ng., Agustinus Wibowo, Hermawan Kertajaya, Franz Magnis-Suseno, as well as international authors like Enid Blyton, Paulo Coelho, J.K. Rowling, Agatha Christie, J.R.R. Tolkien, Malcolm Gladwell and Dale Carnegie have entrusted their works to be published by Gramedia Pustaka Utama. Many of our published books have won numerous national and international awards, including Kusala Sastra Khatulistiwa, IKAPI (Association of Indonesian Publishers) Award, Islamic Book Award, Anugerah Pembaca Indonesia (Indonesia Readers' Award), Gourmand World Cookbook Awards, Liberaturpreis Germany, World Reader's Award, and have been nominated for the Man Booker International Prize. Gramedia Pustaka Utama also supports literacy development activities in Indonesia and South East Asia by participating actively in Ubud Writers & Readers Festival, Makassar International Writers Festival, ASEAN Literary Festival, and Singapore International Writers Festival. Today, with more than 30 thousand published titles and through its cooperation with more than 200 leading foreign publishers from the US, Netherlands, Germany, Belgium, Brazil, Denmark, Hong Kong, India, the Great Britain, Italy, Japan, Germany, Canada, Malaysia and Switzerland, Gramedia Pustaka Utama has solidified its position as one of the best publishers in Indonesia. In the future, Gramedia Pustaka Utama is committed to being the nation's agent of change: to choose and produce quality books, to expand horizons, to enlighten people and stimulate creative thinking, all with the support of cutting-edge technologies.      
Penerbit KPG
Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) adalah salah satu penerbit di bawah payung Kelompok Kompas Gramedia yang memiliki tradisi memadukan bisnis dan kegiatan sosial. Leluri ini bersumber pada keyakinan bahwa profit dalam bisnis seyogianya diperoleh dari mengembangkan potensi sekeliling. Didirikan pada 1 Juni 1996 atas prakarsa Parakitri T. Simbolon, KPG berusaha meningkatkan melek sains dan keterbukaan pikiran pembaca dengan menerbitkan buku-buku sains dan humaniora, baik lokal maupun terjemahan. Seperti namanya, pustaka tersebut hendaklah populer: serius dan nikmat. Serius, berarti sanggup memberi pembaca pemahaman yang jernih atas satu perkara, menggairahkan pembaca untuk memikirkan atau merenungkan suatu perkara lebih jauh lagi, atau memberi kejutan—sepetak ruang hening di tengah hiruk-pikuk banjir informasi. Nikmat, maka bahasanya mengalir jelas, dan bila perlu disajikan dengan ilustrasi, kartun, ataupun dalam bentuk komik agar perkara rumit lebih gampang dipahami. Buku pertama KPG,  terbit pada 1996, adalah Politik Kerakyatan, cerita bergambar saduran Discorsi karya utama Niccolò Machiavelli. Setahun kemudian, Politik Kekuasaan, masih saduran karya Machiavelli, terbit hampir bersamaan dengan tiga karya duo kartunis Benny& Mice dalam seri Lagak Jakarta.  Seri ini mendapat sambutan luas setelah  pada 2007 terbit Edisi Lengkap Lagak Jakarta. Pembaca makin gandrung dengan duo kartunis Benny & Mice, sosiolog par excellence, setelah mereka meluncurkan buku-bukunya, 100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta (2008), dan Lost in Bali 1 (2008) dan Lost in Bali 2 (2009), di samping karya tunggal Benny, Dari Presiden ke Presiden 1 dan 2. Novel pertama KPG, Saman, karya Ayu Utami, terbit hampir bertepatan dengan awal berkecambahnya Reformasi di negeri ini. Saman memenangi beberapa penghargaan sastra, di antaranya Lomba Penulisan Novel DKJ 1998 dan Prince Claus Award pada 2000. Kehadiran novel ini cukup fenomenal. Bukan hanya mutu sastranya yang tinggi dan keberaniannya mengangkat isu-isu politik dan seksualitas perempuan yang ketika itu ditabukan, Saman dicetak ulang hingga lima kali hanya dalam waktu tiga bulan, hingga menjadi lokomotif untuk penerbitan sastra lokal. Kartun Fisika karya Larry Gonick yang terbit pada 2001 merupakan buku sains pertama KPG. Buku-buku sains lainnya, antara lain, adalah Seri Science Masters. Seri ini mencakup buku-buku populer karya saintis terkemuka dunia di  berbagai bidang, mulai dari fisika kuantum hingga kosmologi, dan dari palaentologi hingga neurologi. Dalam perkembangannya, KPG memiliki beberapa lini, yaitu POP dan IceCube untuk pembaca remaja dan dewasa muda, GAIA untuk ibu muda, Kiddo untuk anak-anak, dan Muara untuk pembaca Muslim, serta inisiatif oleh Comma Books. Tidak hanya menerbitkan buku, kini KPG juga bergerak di bidang penerbitan konten.     Kirim naskah: dps.gramedia.com Resensi: kpg.bookmania@gmail.com.  
102 likes