Sebelas bulan telah berlalu sejak pertama kali Indonesia menyatakan secara resmi COVID-19 tiba di negeri ini. Selama hampir setahun itu pula kita mengalami berbagai hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Rutinitas kita berubah; lingkungan rumah, kerja, dan sosial berubah; dan hubungan sosial pun tidak seperti yang pernah kita bayangkan. Kata “New Normal” menjadi buzzword yang kita upayakan untuk kita yakini dan terima.

Upaya ini nyatanya tidak mudah. Banyak di antara kita masih belum benar-benar bisa menerima dan berharap, dunia yang indah sebelum korona ini segera kembali. Nyatanya, harapan indah itu tidak kunjung tiba, dan karena itu untuk sebagian dari kita, kebahagiaan itu terasa semakin menjauh.

"Love for Imperfect Things" merupakan buku kedua Haemin Sunim, yang terbit setelah buku pertamanya "The Things You Can See When You Slow Down". Dalam buku keduanya, Haemin Sunim mengajak sekaligus menemani pembaca untuk memeriksa kembali “harapan indah” tersebut dan memeluk apa pun yang ada. Kehidupan memang semrawut, kadang indah, rapi, dan mulus, kadang juga ambyar. Akankah kebahagiaan kita ikut ambyar?

Ikuti pembahasannya bersama Bhante Nyanagupta dan Maria Hartiningsih. Bhante Nyanagupta sehari-hari melakukan pelayanan di Wihara Ekayana Arama, Jakarta. Selama 12 tahun kehidupan sebagai monastik (biksu), Beliau aktif mengikuti pelatihan/retret Zen/Chan, antara lain di Dharma Drum Mountain di Taiwan (2007-2010), Plum Village Prancis (2010), Malaysia, dan Indonesia. Maria Hartiningsih adalah jurnalis harian Kompas sejak 1984 hingga 2015. Bukunya “Jalan Pulang” memuat perjalanan spiritualnya berziarah ke Camino Santiago—Lourdes—Plum Village—Oran dan Mostaganem.

#TheThingsYouCanSeeOnlyWhenYouSlowDown#JalanPulang#BukaBukuKPG

Be the first person to like this.