Kepustakaan Populer Gramedia
by on August 11, 2020
293 views

Mengisahkan buku memang seperti tak habis-habis. Buktinya, bila kita membaca tulisan-tulisan yang dikisahkan oleh P. Swantoro, kita tak bisa untuk berhenti hanya dengan membacanya. Mau tak mau pikiran kita diajak untuk berdialog, mempertanyakan, membantah, tidak percaya, atau sekedar tercenung dan merenung. Betapa hebatnya buku, bisa membuat kita menjadi semakin terpikat, tergoda dan sekaligus membuat kita mengajukan kesimpulan baru di dalam pikiran kita. 

Bisa jadi karena itulah, buku tak sekadar menjadi suluh, tetapi juga menjadikan pikiran kita menjadi berpihak. Saat itulah, kita akan merasakan perbedaan antara yang membaca dan tidak membaca. Yang berpikir dan yang tak berpikir, yang menandaskan dirinya pada etos keilmuan, dan yang sekedar berfikir asal-asalan. Dari itulah, kita mempercayai, kisah pergumulan manusia dengan buku, bukan sekedar perjumpaan semata, tetapi ada proses kedekatan, lebih tepatnya kecintaan pada ilmu pengetahuan, kepada kebenaran. 

Karena itulah, seorang pembaca yang baik, tentu saja menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya untuk melakoni “laku spiritual” ketika bergumul dengan buku. Seperti yang disinggung pula oleh P.Swantoro di buku yang berjudul Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu (2016). Melalui pembacaannya terhadap buku-buku di masa lampau, ia mengisahkan pula bagaimana ia tumbuh dengan berbagai macam bacaan. Baik yang berbau politik, ekonomi, sampai dengan bersifat penelitian dan sejarah. 

Sebagai seorang wartawan sekaligus seorang sejarawan, Nampak sekali di buku ini, bagaimana ia mengisahkan Indonesia dalam cara pandang seorang wartawan, meski tak melupakan aspek sejarah. Pilihan-pilihan buku yang berbau sejarah tentu saja ikut memberikan penyegaran kembali ingat pembaca mengenai sejarah Indonesia. 

P. Swantoro tak hanya menceritakan bagaimana para Indonesianis seperti Kahin, Ricklef, Wertheim, Peter Carey, Julian Benda sampai pada Zoetmoelder. Tetapi juga menceritakan bagaimana cara kerja ilmuwan dan Indonesianis yang berpihak pada kepentingan colonial seperti Snouck Hurgronje. Ada keinginan dari penulis untuk mendudukkan manusia dan tokoh di dalam buku-buku yang ia kisahkan secara adil. Ia tak hanya menilai dan melihat sisi negatif si tokoh, tetapi menggali sisi manusiawi yang bisa diambil. 
 

Penulis: P. Swantoro
Editor: Galang
Kategori: NonfiksiHumanioraSejarah
Terbit: 11 April 2016
Harga: Rp 95.000
Tebal: 474 halaman
Ukuran: 140 mm x 210 mm
Sampul: Softcover
ISBN: 9786026208231
ID KPG: 591601156
Bahasa: Indonesia
Usia: 13+
Bonus: Poster
Penerbit: KPG



Kita bisa menilik bagaimana P. Swantoro mendudukkan tokoh seperti Van Mook. Baik kita kutip pendapat penulis mengenai Van Mook. “Van Mook merupakan pendukung kebijakan yang terarah pada pematangan orang Indonesia agar mampu ikut serta dalam pemerintahan, dan yang secara bertahap dapat melepaskan diri dari asuhan Nederland. Kebijakan ini ternyata tidak terwujud sampai invasi Jepang pada 1942” (h. 294). 

Pada halam sebelumnya, kita juga akan menyimak bagaimana p. Swantoro mengisahkan sosok Snouck Hurgronje. “Pidato pengukuhannya sebagai guru besar berkisar pada hubungan antara Arabie en Oost-Indie, Arabia dan Hindia Timur. Dalam kapasitasnya inilah ia menjadi promotor orang Indonesia pertama yang menampilkan disertasinya di Universitas Leiden pada 1913. Orang Indonesia itu tidak lain adalah Hoesein Djajadiningrat dengan disertasi yang berjudul De Critische Beschouwing van da Sajarah Banten. Tinjauan Kritis atas Sejarah Banten” (h.193). 

Meski mengisahkan banyak buku yang dikarang oleh kebanyakan penulis luar, tetapi P.Swantoro tidak bisa melepaskan sudut padangnya sebagai seorang sejarawan Indonesia. Ia tetap memakai Indonesia sebagai sudut pandang dan titik pangkal. Mulai dari kisah kolonialisme, tentang jawa, dan bahasa jawa kuno, sampai pada Diponegoro dan perang Jawa. 

Penulis mengawali buku ini dengan kisah tentang Indonesia, yakni tentang Lambang-Lambang Kota Praja Hindia Belanda 1930-an, dan mengakhiri dengan kisah tentang Indonesia pula. Yakni dengan menulis tentang Pancasila dan satire tentang sikap “yogi-ilmu” dan sikap asketisme para pemimpin negeri ini.


Peresensi:  Arif Saifuddin Yudistira, tuan rumah Pondok Filsafat Solo, Pengelola doeniaboekoe.blogspot.com

Posted in: Ulasan
Be the first person to like this.
Game Dinosaur
Some of the challenges can be quite frustrating, especially if you're not a patient person. https://cookieclicker-2.io