siapabilang.com
by on February 4, 2020
165 views

Berhadapan dengan Revolusi Industri 4.0, adakah kegairahan dalam diri kita meluap seperti yang dirasakan oleh tokoh Minke dalam novel Bumi Manusia-nya Pramoedya Ananta Toer?  Revolusi 4.0 diperkirakan akan menjadikan dunia bisa kita kendalikan lewat sepotong perangkat di tangan, bak cupu manik astagina milik Dewi Windradi dalam cerita Ramayana. Ya, bila cupu itu dibuka, manik di dalamnya akan memperlihatkan isi dunia.

Minke yang menikmati masa-masa puncak Revolusi 2.0 begitu terpesona dengan kilau sains dan pengetahuan. “Dalam hidupku, baru seumur jagung, sudah dapat kurasai: ilmu pengetahuan telah memberikan kepadaku suatu restu yang tiada terhingga indahnya,” begitu katanya. “Ilmu dan pengetahuan yang kudapatkan dari sekolah dan kusaksikan sendiri dalam hidup telah membikin pribadiku menjadi agak berbeda dari sebangsaku pada umumnya. Sungguh merugi generasi sebelum aku—generasi yang sudah puas dengan banyaknya jejak langkah sendiri di lorong-lorong kampungnya.”

Dalam ilmu pengetahuan memang berkelindan kebudayaan dan nilai-nilainya. Pramoedya, melalui sosok Minke, telah menengarai hal itu, sementara Rudolf Mrazek menguaknya lebih jauh dalam bukunya, Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in a Colony. Di situ, Mrazek menguraikan perjumpaan masyarakat di Hindia Belanda dengan teknologi sebagai sebuah metode, proses berpikir, bukan teknik. Bagi Mrazek, perjumpaan manusia dengan teknologi baru “yang tidak seperti biasanya” membuka peluang untuk mengamati suatu budaya secara berbeda, lebih terbuka, dan lebih mendalam.

Orang-orang di Hindia Belanda, kata Mrazek, seringkali bertindak, berbicara, dan menulis dengan bahasa dan perilaku yang halus. Begitu mereka menangani atau ditangani oleh teknologi baru, waktu, ruang, budaya, dan identitas mereka sebagai bangsa menjadi serbakikuk dan canggung. Kecanggungan itu bukan hanya menimpa masyarakat jajahan, melainkan juga para tuan penjajah. Demikian juga hasrat untuk memanfaatkan kekuatan teknologi, tidak hanya menjangkau para penguasa jajahan tetapi juga masyarakat koloni.

Itu cerita tentang perjumpaan kita dengan teknologi di masa silam. Bagaimana kini, ketika kita dihadapkan pada Revolusi 4.0? Mari kita tinjau hasil survei YouGov yang menyebutkan responden asal Indonesia, Arab Saudi, dan Amerika Serikat sebagai tiga terbanyak yang paling tidak percaya terhadap perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Sebanyak 18 persen responden asal Indonesia mengakui adanya perubahan iklim nyata, “tetapi tidak disebabkan oleh ulah manusia”. Angka itu lebih tinggi dibanding responden Arab Saudi (15 persen), dan Amerika Serikat (13 persen).

Sains telah memperlihatkan bahwa perubahan iklim diakibatkan oleh ulah manusia, namun banyak dari kita masih tidak mempercayainya. Sampai di sini mungkin kita tergoda untuk bertanya, mengapa tradisi dan praktik berpikir ilmiah kita masih lemah, jika bukan tidak berkembang? Barangkali ingatan lama kita tentang rumusan Mochtar Lubis tentang sifat manusia Indonesia segera menyembul. 

Dalam pidato kebudayaannya 43 tahun silam, Mochtar Lubis bilang: manusia Indonesia memiliki enam sifat dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sifat-sifat itu adalah 1) Hipokritis dan munafik; 2) Enggan bertanggung jawab atas perbuatannya; 3) Berjiwa feodal; 4) Percaya takhayul; 5) Artistik; 6) Watak yang lemah. Tak ada sifat yang menunjukkan bangsa kita rasional, akar dari tumbuhnya ilmu pengetahuan.

Boleh kita menyangkal Mochtar Lubis. Namun bukan itu urusan yang terpenting. Pokok soalnya adalah apakah kita kini punya sifat, seperti kata Minke, “Aku lebih mempercayai ilmu pengetahuan, akal.”

Adakah rasa penasaran atau malah kagum di benak kita pada negara-negara tetangga kita, termasuk Tiongkok, yang dengan terang-benderang memperlihatkan keyakinannya akan keandalan teknologi dan sains? Berkat teknologi dan sains, pemerintah Xi Jinping baru-baru ini dengan sigap membangun rumah sakit sementara berkapasitas 1.000 tempat tidur dalam waktu sekitar 10 hari. Seluruh keputusan politik dan keuangan dikerahkan dan dipumpunkan berdasarkan keyakinan itu, tanpa keraguan. Semua itu untuk menghadapi wabah Covid-19 yang telah merenggut nyawa ratusan warganya, dan masih akan bertambah. Semoga kita tidak menutup mata sambil memoles-moles kisah Rara Jonggrang yang meminta Bandung Bandawasa untuk mendirikan seribu candi dalam semalam.

Di bidang lain, bisnis dan pendidikan, Tiongkok juga memperlihatkan deretan capaian dalam dua dasawarsa belakangan ini, seperti dalam hal angka PISA (Programme for International Student Assessment) 2018. Negeri Tirai Bambu berhasil mengejar ketinggalannya baik di bidang bahasa, matematika, dan terlebih sains, untuk melompat ke tempat tertinggi; dari urutan ke-10 dalam PISA 2015 kini mengungguli Singapura dan duduk di urutan pertama. Sementara Indonesia dalam posisi 72 dari 77 negara (membaca), 72 dari 78 negara (matematika), dan 70 dari 78 negara (sains).

Yuval Noah Harari dalam World Economic Forum di Davos lalu mengingatkan, ada tiga tantangan yang dihadapi umat manusia pada abad ke-21 ini: kehancuran ekologis, perang nuklir, dan disrupsi teknologi. Khusus untuk faktor terakhir, Yuval menyebutkan, dua hal yang bakal timbul akibat disrupsi teknologi.

Pertama, terciptanya kelas yang tak berguna karena tidak lagi relevan dengan seluruh perkembangan yang ada, dan kedua, kolonialisasi data. Panoptikon—yang dikenalkan Foucault—tidak lagi dibatasi tembok penjara; “big brother” berupa algoritma akan selalu mengintai, menawarkan apa yang kita baca, apa yang kita beli, apa yang kita makan, bahkan sampai siapa pasangan kita, dan bagaimana suasana hati kita.

Dalam situasi semacam ini, memberi tempat pada perkembangan sains sudah semakin mendesak. Indonesia membutuhkan ilmu pengetahuan tak hanya sebagai perangkat pelengkap kebijakan, tapi justru menjadi inti dari cara berpikir tentang masyarakat, lingkungan, masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dan, kita punya contohnya di masa lalu.

Tentu kita masih ingat kisah seorang priayi agung kelahiran Tallo, Makassar, Karaeng Pattingalloang. Bangsawan ini mencintai ilmu eksakta, “Khususnya buku-buku mengenai matematika, tentang mana ia sangat ahli dan begitu besar cintanya kepada setiap bagian ilmu ini, sehingga mengerjakannya siang malam,” kata Pastor Alexander de Rhodes, seperti dikutip Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid 1.

Masih kata de Rhodes, Pattingalloang punya perpustakaan yang luar biasa, dengan koleksi buku dan atlas Eropa. Dia juga pernah memesan bola dunia ukuran besar, atlas, dan teropong untuk mengobati rasa penasarannya pada dunia yang luas. Selain fasih bahasa Portugis, dia mempelajari bahasa Spanyol dan bahasa Latin. Bahasa terakhir, adalah bahasa penting untuk mempelajari ilmu pengetahuan klasik Eropa.

Dengan membangkitkan semangat Pattingalloang itulah siapabilang.com mengangkat buku-buku sains yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia maupun Gramedia Pustaka Utama. Sebagian buku-buku itu ditulis oleh saintis terkemuka yang paham bagaimana mengomunikasikan sains dan menularkan budaya berpikir ilmiah kepada khalayak umum, tanpa harus merusak substansinya.

Carl Sagan, Neil de Grasse Tyson, dan Jared Diamond adalah beberapa di antaranya. Buku yang lain adalah karya-karya pokok beberapa ilmuwan dunia yang selalu dikutip dan dikutip, tanpa mungkin pernah dibaca secara utuh, seperti buku Relativitas Einstein.  

Sains dan teknologi bisa membawa orang melambung tinggi, sedemikian tinggi hingga menjadikan orang merasa serbatahu dan serbakuasa. Namun, jika sains dan teknologi diterima sebagaimana adanya dan rendah hati, buah pengetahuan kerap mencuatkan rasa “longsor yang menakutkan”. Kendati berbagai capaian telah diraih, seorang ilmuwan tak akan terhindar dari rasa perih, sesal, dan cemas yang mungkin bertahan lebih lama daripada kenikmatan yang didapat sebelumnya.
 


Ditulis oleh Christina M. Udiani.

Posted in: Editorial
Like (5)
Loading...
5