siapabilang.com
by on July 27, 2020
10 views

Sejarawan dan sastrawan Kuntowijoyo (1988) pernah membuat pembagian tiga jenis sastra di Jawa: sastra keraton, sastra priyayi, dan sastra baru. Ia mengakuan tak memiliki argumentasi mutlak tapi “menggampangkan” saja untuk mengerti sejarah dan perkembangan sastra Jawa, dari masa ke masa. 

Sastra keraton bertumbuh di kaum feodal memberi perhatian kandungan teologi dan etika. Di jalur sastra keraton, ajaran-ajaran Islam mulai terdakwahkan oleh para pujangga dan kehendak raja. Kita mengingat warisan berupa Serat Wedhatama (Mangkunegara IV) dan Serat Wirit Hidayat Jati (Ranggawarsita). Sastra Priyayi terbaca di Serat Subasita (Ki Padmasusastra) dan Serat Riyanta (R Bagus Sulardi). Sastra baru itu sastra bagi wong cilik. Kuntowijoyo memberi pujian atas buku Simuh berjudul Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita: Suatu Studi Terhadap Serat Wirid Hidayat Jati (1988). Studi itu menguatkan pengakuan bahwa gubahan sastra di keraton memunculkan dakwah Islam dan sufisme berselera Jawa. 

Simuh memang tekun dalam studi dan penulisan artikel-artikel mengenai Islam dan Jawa. Kita membuktikan dengan membaca buku berjudul Sufisme Jawa: Transformasi Tasawuf Islam ke Mistik Jawa. Buku penting dan mengingatkan sejarah Islam di Jawa menempuhi jalur tasawuf, terbaca di sekian gubahan teks sastra Jawa dan meresap di pelbagai tradisi. Simuh menerangkan bahwa dakwah Islam mula-mula di Jawa mengalami proses berliku, setelah Jawa “terbentuk” oleh tradisi Hindu-Buddha, mengakar lama dan kuat. Pada masa lalu, tradisi itu kokoh di keraton mencipta tradisi besar, berbeda corak dengan tradisi-rakyat. Sastra-sastra keraton mengesahkan Jawa bergelimang anutan Hindu-Buddha. Dakwah Islam memilih berlangsung di perdesaan sepanjang pesisir, sebelum sampai ke keraton. Di perdesaan, Islam lekas diterima dan membentuk corak tak mutlak patuh pada keraton. 

Alur dari pinggiran itu mengejutkan. Simuh menjelaskan: “Penyebaran agama Islam di daerah pesisir yang diikuti dengan mengalirnya kepustakaan agama kemudian melahirkan lingkungan tradisi budaya baru yang dinamakan budaya pesantren, yang mau tidak mau menjadi tradisi agung yang kedua yang mengimbangi tradisi agung di lingkungan istana.” Situasi itu memberi pengaruh dengan pendirian kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Majapahit runtuh, dakwah Islam mengalir pula di jalan kekuasaan melalui para raja dan pujangga keraton. HJ De Graaf dan Th Pigeaud dalam buku Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI (1995) mengakui bahwa “agama Islam berangsur-angsur berkembang menjadi agama yang paling besar di Jawa.” Perdagangan dan politik mendorong dakwah Islam menguat. Latar itu memungkinkan kemunculan gubahan sastra bergelimang ajaran Islam dan petuah Jawa.

Kekuasaan di abad XVI dimengerti Simuh memicu kemunculan beragam sastra berbahasa Jawa mengandung unsur-unsur tasawuf dipertemukan tradisi kejawen. Sekian gubahan sastra adalah Serat Ambiya, Serat Kandha, Paramayoga, dan Serat Menak. Di luar tradisi baru khas keraton, bermunculan kepustakaan Islam bermuatan kejawen berupa suluk, wirid, dan primbon. Pada masa lalu, dakwah Islam terpancar dari pembacaan dan tafsir atas Wirid Hidayat Jati, Centhini, Wedhatama, Wulangreh, Suluk Sukma Lelana, Sastra Gendhing, dan lain-lain. Sastra keraton menjadi sumber produksi sastra-sastra Islam bercorak tasawuf. Tradisi kejawen terus lestari dan terbaca untuk mengingat “kesinambungan” dengan masa lalu.

Simuh pun mencatat berlangsung islamisasi dari gubahan sastra lama: Serat Bima Suci. Serat itu menjadi referensi religius bagi orang-orang Jawa, bersumber dari epos Mahabharata. Kekuasaan dan dakwah Islam menjadikan serat itu mengalami islamisasi tanpa mengubah “struktur” secara drastis dan mengabaikan patokan-patokan kejawen. Cara baca berubah ke arah dakwah bercap “falsafah mistik kejawen.” Islamisasi kepustakaan Jawa berlaku untuk sekian serat, membentuk pemahaman memadukan Islam-Kejawen. Kita bisa simak pengaruh itu melalui buku berjudul Citra Bima dalam Kebudayaan Jawa garapan Woro Aryandini (2000). Citra Bima saat Islam sudah berkembang di Jawa adalah pelindung keluarga, pelindung masyarakat, pahlawan perang, dan tokoh penyebar agama. 

 

Penulis: Dr. Simuh
Kategori: NonfiksiSejarah
Terbit: 18 November 2019
Harga: Rp 75.000
Tebal: 272 halaman
Ukuran: 140 mm x 210 mm
Sampul: Softcover
ISBN: 9786024812010
ID KPG: 591901732
Bahasa: Indonesia 
Usia: 15+
Penerbit: KPG



Pada 1991, Simuh turut jadi pembicara di Festival Istiqlal I, suguhkan makalah berjudul “Persoalan Tasawuf dalam Perkembangan Islam di Indonesia”. Al Ghazali berpengaruh besar di Jawa. Simuh mendapati pengaruh itu terdapat dalam gubahan-gubahan sastra. Pengaruh diterima pula dari Ibnu Arabi dan Al Hallaj. Simuh mengingatkan: “Dalam kalangan tradisi kejawen, ajaran sastra suluk yang dijiwai ajaran tasawuf heterodoks amat dikeramatkan oleh para pujangga dan sastrawan di istana Mataram.” Anutan ditentukan oleh pasang-surut politik dan kedatangan bangsa-bangsa asing membuat lakon kolonialisme di Nusantara. 

Dakwah Islam dan politik paling kentara terbaca di sejarah Kesultanan Demak. Episode itu ditafsir Simuh sebagai “titik mula pertemuan antara lingkungan-budaya istana yang bersifat Hindu-Kejawen dan lingkungan-budaya pesantren”. Abad XVI menjadi abad akulturasi di Jawa. Abad menghasilkan dobrakan estetika dan teologi di kalangan pujangga. Sejak pendirian Kesultanan Demak, para pujangga Jawa membuka mata dan perhatian ke perbendaharaan ajaran Islam. Arus gubahan sastra dibarengi pula produksi kepustakaan pesantren dipengaruhi kisah-kisah berbahasa Arab dan Melayu. Sejarah terasa “meriah” dan memungkinkan ada perbedaan atau keragaman. 

Jawa perlahan berubah di abad XIX. Pendirian sekolah-sekolah dan pembesaran kolonialisme menjadikan dakwah Islam dan perkembangan sastra Jawa bergejolak. Gerakan Islam di Jawa mulai berurusan dengan nasionalisme. Pembaharuan agama pun terjadi dengan kemunculan para tokoh dan sarikat. Sejarah berubah dari masa-masa kerajaan pernah moncer beralih ke babak-babak politik, pendidikan, pers, dan sastra. Simuh mencatat gejolak di sastra. Pada abad XIX, ada dua sumber pengembangan kesusastraan Jawa baru: kitab-kitab kuno dan pesantren. Gubahan sastra bereferensi sastra kuno dipelopori oleh Yasadipura I dan Yasadipura II. Pesantren menjadi sumber dengan studi atas pelbagai kepustakaan berbahasa Arab dan perkembangan dakwah Islam berbeda corak dari keraton. 

Kita membaca studi Simuh seperti menempuhi perjalanan jauh. Perkembangan dakwah Islam cenderung dimengerti melalui politik. Simuh memilih mengundang kita membaca lagi gubahan-gubahan sastra dan peran para pujangga dalam mengenalkan-mengedarkan sufisme Jawa, dari masa ke masa. Keseriusan mengingat episode sejarah dakwah Islam dan sastra dibuktikan Simuh dengan menguak pelbagai hikmah dari serat dan suluk untuk mengantar kita menengok sejarah tak melulu politik. Begitu.

Dimuat di Suara Merdeka edisi Minggu, 1 Desember 2019


Peresensi: Bandung Mawardi 

 

Posted in: Ulasan
Be the first person to like this.