siapabilang.com
by on August 14, 2020
83 views

Kemerdekaan adalah kemenangan bagi suatu bangsa yang berperang. Tetapi tidak semua yang ikut berperang dapat menikmati kemenangan itu. Banyak rakyat yang layak disebut pahlawan dalam sebuah peperangan tetapi justru hidupnya dibelit kemiskinan. Bahkan di antara mereka tercampak setelah kemerdekaan berhasil dicapai (hal 237). Itulah salah satu fakta yang tak bisa ditolak dan berusaha disentil oleh Ashadi Siregar dalam novel terbarunya “Menolak Ayah”. Novel berlatar Tanah Batak ini mengisahkan kegetiran hidup Tondinihuta, lelaki yang merasa sangat kecewa dengan Pardomutua, ayah kandungnya sendiri. Sejak masih bayi, Pardomutua tega menelantarkan istrinya, Halia, dan Tondinihuta, anak semata wayangnya. Tak heran bila pada akhirnya Tondinihuta tak mengakui dan menolak keberadaan ayahnya.  

Perkawinan Pardomutua dan Halia memang bukan atas dasar suka sama suka, melainkan dijodohkan orangtua mereka. Setelah menikah, otomatis gadis remaja itu terlepas dari marganya dan harus mengikuti marga suaminya. Sayangnya, pernikahan tersebut tak lantas membuat Halia bahagia. Bagaimana ia bisa merasa bahagia bila diperlakukan kasar dan semena-mena oleh suaminya? Pardomutua hanya akan bersikap lembut saat menginginkan tubuhnya di atas ranjang. Menjadi istri Pardomutua berarti harus pandai bergaul dengan orang-orang Belanda. Waktu itu, Pardomutua memang telah bekerja di sebuah kantor milik tuan Belanda. Ia bisa hidup enak bersama kalangan orang-orang Belanda berkat pertemanan Ompu Silangit, ayah Pardomutua, dengan pegawai gubernemen Belanda. Kehidupan Pardomuta pun berubah ketika diakui sebagai anak angkat oleh seorang demang agar bisa masuk MULO, sekolah di masa penjajahan Belanda (hal 61).  

Sayangnya, Halia tak menguasai bahasa Belanda. Sehingga tiap ada pesta atau acara penting, ia lebih sering berkutat di dapur, membantu menyiapkan hidangan bersama para nyonya Belanda. Kepiawaian Halia memasak menjadi berkah tersendiri bagi para nyonya Belanda. Tak heran bila ia sering dipuji dan disukai oleh mereka. Sayangnya, sebagai orang terhormat dan terpandang Pardomutua merasa tercoreng harga dirinya melihat istrinya ikut bekerja di dapur. Ia marah-marah dan melarang Halia agar jangan menjadi koki di dapur rumah Belanda, “Kita bukan hatoban (budak belian), kita anak ni raja (keturunan Raja Batak). Tidak sepatutnya kau bekerja di dapur orang Belanda. Kau tidak ikut bergaul dengan tamu-tamu saja sudah menjatuhkan mukaku. Kau tambah lagi dengan bekerja di dapur,” (hal 175).
 

Penulis: Ashadi Siregar
Editor: Christina M. Udiani
Kategori: SastraFiksiNovel
Terbit: 16 November 2018
Harga: Rp85.000
Tebal: 440 halaman
Ukuran: 135 mm x 200 mm
Sampul: Softcover
ISBN: 9786024248642
ID KPG: 591801526
Bahasa: Indonesia
Usia: 17+
Penerbit: KPG



Dari perkawinan mereka, lahir anak lelaki yang kemudian diberi nama Tondinihuta. Kelahiran Tondi, panggilan akrab bocah tersebut, menjadi berkah bagi Halia sekaligus tameng dari kebengisan perilaku suaminya. Bagi Halia, nyeri saat melahirkan tak sebanding dengan nyeri dari malam ke malam ketika suaminya dengan beringas menginginkan tubuhnya (hal 183).
Hadirnya bayi mungil dan lucu di rumah itu membuat Pardomutua sering marah-marah. Selain karena tak lagi bisa menikmati tubuh istrinya, lengkingan suara Tondi saat menangis membikin telinganya pekak. Saat ia membentak Halia agar menghentikan tangisan Tondi, justru malah menambah jeritan bayi itu. Inilah yang menyebabkan Pardomutua tak betah di rumah. 

Puncaknya, Pardomutua tak pernah kembali ke rumah. Ia yang telah memiliki istri baru di luar sana, menelantarkan istri dan bayinya. Tondi pun tumbuh dalam balutan kasih sayang ibu, ompung dan ompungboru-nya (kakek-neneknya). Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari bersama anak semata wayangnya, Halia bekerja sebagai tukang masak di rumah sakit pemerintah di daerah Siantar. Ia dapat bekerja di sana berkat rekomendasi kepala rumah sakit itu, seorang dokter yang pernah bertugas di daerah onderneming.Ketika zaman semakin maju dan berkembang, selembar ijazah menjadi hal yang nyaris dipersyaratkan ketika melamar pekerjaan. Bahkan saat mendaftar haji pun, kini ijazah menjadi salah satu persyaratan yang harus dilampirkan. Hal ini juga dialami oleh Halia. Kehidupan Halia berubah setelah ia tersingkir dari pekerjaannya. Semua bermula ketika Republik mulai menata berbagai sistem pemerintahannya. Halia tersingkir karena karena tak punya ijazah yang diperlukan untuk mengisi posisinya. Ia kemudian melanjutkan hidupnya dengan berjualan pisang goreng di warung kecil di bawah jembatan kereta api. Tondi, yang waktu itu sudah sekolah di SMP, selalu membantu ibunya di warung. 

Kisah Tondi dan ibunya yang penuh kegetiran dalam buku ini masih panjang dan berliku. Puncaknya, ketika Tondi dewasa dan harus meninggalkan ibunya. Ia memutuskan ikut berjuang bersama PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) yang dibentuk para dewan di Padang dan Medan bulan Februari 1958. PRRI merupakan bentuk perjuangan yang dilakukan orang-orang daerah agar keinginannya didengar pemerintah pusat. Atau dengan kata lain, ketidakadilan pemerintah pusat dalam membangun daerah, memicu munculnya PRRI (hal 251). Salah satu pesan penting yang dapat menjadi renungan para orangtua dalam buku ini; ketika seorang lelaki mengabaikan istri dan anaknya, pantaskah ia menjadi seorang ayah?

Resensi dimuat di Koran Radar Madura edisi Kamis, 31 Januari 2019


Presensei: Sam Edy Yuswanto, penikmat buku, mukim di Kebumen.

Posted in: Ulasan
Be the first person to like this.