siapabilang.com
by on September 14, 2020
10 views

Terkadang, orang jatuh pada imajinasi dan hal yang jauh dari realitas keseharian. Membicarakan hal yang bisa dikata viral, namun hal itu tidak ada di sekitar kita. Sehingga hanya menjadi penonton yang bisa bersorak saja. Tidak bisa berbuat apa-apa selain itu. Alih-alih mempraktikkan hal yang dibicarakan dengan lantang. Tentunya ini tidak terbatas pada hal-hal yang viral saja, juga tentang konspirasi, mitos, dan lain sebagainya yang belum tentu nyata.

Mengenai kenyataan, Dawkins pada buku ini memberitahu kita apabila apa yang 'nyata' sebenarnya sangat menakjubkan. Namun tidak semua orang akan memahami sesuatu yang menakjubkan ini apabila tidak mempelajari dengan baik. Mempelajarinya dapat dilakukan dengan menyingkirkan terlebih dahulu hal-hal yang tidak nyata tadi. Katakanlah menyingkirkan takhayul, lantas mulai menyimak buku The Magic of Reality.

Membaca buku ini mengingatkan saya pada buku
Guns, Germs, and Steel (2016) karya Jared Diamond. Ada irisan yang pada beberapa bab sama-sama membicarakan proses evolusi. Pada evolusi, makhluk hidup akan menyesuaikan dirinya dengan alam untuk bertahan hidup. Terkhusus agar generasinya tidak punah karena kalah dengan makhluk hidup lain. Prosesnya bisa ratusan hingga berjuta-juta tahun untuk evolusi fisik dan kemampuan yang dimiliki.

Pada Guns, Germs, and Steel Jared Diamond menjelaskan proses bagaimana buah-buahan di sekitar pekarangan kita bisa manis dan ukurannya besar. Ada proses seleksi yang dilakukan baik oleh manusia maupun makhluk hidup lain. Contohnya, ketika manusia pergi ke hutan dan melihat buah apel. Ia ketika membawa pulang pastinya memilih buah yang besar daripada kecil karena lebih efisien. Tentu juga dengan rasa yang manis. Lalu biji dari buah apel tadi tumbuh di pekarangan rumah kita.

Sedangkan The Magic of Reality, salah satunya membicarakan tentang biarawan Austria pada abad kesembilan belas. Bernama Gregor Mendel melakukan percobaan di kebun biaranya. Ia menyilangkan ercis dalam jumlah banyak. Dia menghitung tumbuhan ercis yang memiliki bunga dengan berbagai warna, ataupun yang ercisnya keriput dan mulus selama bergenersi-generasi. Sehingga ia menemukan jenis tumbuhan ercis yang unggul. (Halaman 16-17)

Penulis: Richard Dawkins
Editor: Andya
Kategori: NonfiksiSains
Terbit: 13 April 2015 
Harga: Rp 145.000
Tebal: 272 halaman
Ukuran: 180 mm × 240 mm
Sampul: Softcover
ISBN: 9789799108524
ID KPG: 901150966
Bahasa: Indonesia
Usia: 15+
Penerbit: KPG


Keduanya sama-sama melakukan percobaan dengan gen. Pada bab itu, tentunya karena pembahasan yang lain bisa melebar. Sesuai dengan tema dan gaya bahasa masing-masing. Dawkins menjelaskan gen saat menjelaskan realitas atau kenyataan. Ia berkata jika realita dapat dipahami dengan tiga cara yaitu indra, alat, dan model. 

Namun sebelum lebih lanjut membicarakan realita. Kita singkirkan dulu hal-hal mengenai mitos atau takhayul. Meski pada The Magic of Reality Dawkins juga bicara tentang mitos sebelum bicara realita. Bahkan mitos dari berbagai tempat dan berbagai abad dengan memikat dan disertai ilustrasi. Seperti saat ia menjelaskan realitas baik evolusi, cahaya, dan alam semesta.

Indra adalah hal yang kita semua memilikinya. Dengan indra mata, kita dapat melihat benda di depan kita. Ketika benda itu dapat dilihat, berarti benda tersebut nyata. Begitupun dengan indra lainnya selain mata. Kita dapat membedakan mana yang nyata dan tidak nyata melalui indra di tubuh kita. Cara kedua memahami realitas dengan alat. Alat bisa bermacam-macam, namun contohnya kita dapat melihat galaksi dengan teleskop. Terakhir melalui model, manusia akan mampu mengetahui sesuatu itu nyata atau tidak. Nyata di sini tidak hanya sesuatu yang terlihat saja, namun harus dapat dibuktikan. Seperti gen misalnya. Kita tidak bisa melihat gen, atau merasakan keberadaannya. Namun gen benar-benar ada dan kita bisa mendapat manfaat ketika memahami gen.

Misalnya dari gen, biarawan tadi mampu menghadirkan benih-benih unggul. Ia tidak mampu melihat gen, namun memahami jika gen benar-benar ada dan bisa dimanfaatkan.

Contoh sederhana lain, teman saya ada yang saat ini mengembangkan peliharaannya, kambing. Ia mengembangkan peranakan kambing Boerka murni, tipe pedaging. Bahkan ia membuka jasa gratis bagi siapapun yang mau mengawinkan kambing dengan Boerka miliknya. Dengan beberapa syarat, karena ia ingin memetakan keturunan-keturunan Boerka-nya di Indonesia, khususnya di kediri.

Tiga contoh di atas hanya tentang gen, dan terbatas pada dua jenis bunga dan satu jenis kambing saja. Belum mengenai realitas lainnya yang belum kita gali, atau bahkan belum digali mendalam Dawkins lewat buku ini. Realitas begitu mengagumkan apabila kita mampu memahaminya. Kita dapat mengotak-atik sedemikian rupa hingga mendapatkan hal yang bermanfaat bagi kehidupan.

Dawkins dalam The Magic of Reality mengingatkan kita, betapa realitas begitu menakjubkan apabila kita memahaminya. Tentang gen, kita mampu mencari keturunan yang unggul. Belum lagi tentang cahaya matahari (pada bab lain) yang ternyata dapat kita pecah menjadi pelangi. Lantas pada cahaya yang tidak nampak pun kita bisa memanfaatkannya (ultra violet, infra merah, sinar X). Belum lagi gelombang radio, atau bahkan realitas sederhana yang berada di sekitar kita.

Pada akhirnya apabila seseorang memahami dan bersinggungan dengan realitas. Ia akan dapat memanfaatkannya dan membuat dirinya lebih maju. Entah dalam bidang pengetahuan, sosial, ekonomi, dan lain sebagainya. Tidak hanya menjadi penonton yang pandai bersorak namun tidak bisa berbuat apa-apa.

Dimuat di Koran Jawa Pos Radar Madura edisi Selasa, 11 Agustus 2020


Peresensi: Khoirul Muttaqin, Mahasiswa Universitas Negeri Malang.

Posted in: Ulasan
Be the first person to like this.