Kepustakaan Populer Gramedia
by on March 10, 2021
188 views

Muhammad Radjab, wartawan sekaligus penulis (kelahiran Sumpur-Padang Panjang) mampu menarasikan Perang Padri di Sumatra Barat (1803-1838) secara komprehensif. Celah-celah kosong yang tidak tersentuh oleh penulis dari kalangan kolonial mampu ia himpun dengan begitu cermat, mengalir begitu saja. Sehingga jadilah buku ini sebagai bahan telaah awal Perang Padri yang ditulis oleh pribumi. Adapun buku ini dicetak pertama kali oleh Kementrian Pengajaran Pendidikan dan Kebudayaan (1954) dan Balai Pustaka (1964).

          Kepiawaian seorang Muhammad Radjab–selaku orang pribumi–tentu tidak terlepas dari rasa cinta yang begitu mendalam. Adanya buku-buku karangan kolonial hanya mengantarkan penulis untuk melihat sisi luarnya saja. Itulah perbedaan antara karya kolonial dan pribumi. Orang pribumi menulis dengan cinta, mampu melihat apa yang tidak terlihat oleh Belanda. Begitu penjelasan Buya Hamka dalam pengantar buku Dari Perbendaharaan Lama.

          Namun demikian, ada sedikit celah dari karya Muhammad Radjab ini, sebagaimana yang dikemukakan oleh Raudal T. Banua. Ia mempertanyakan sosok Tuanku Imam Bonjol yang tiba-tiba muncul sebagai sosok penting, tanpa mengaitkannya terlebih dulu dengan simpul-simpul lain di Minangkabau. Menurutnya, Radjab kurang membangun kesejarahan munculnya sosok penting di Bonjol. Padahal, proses awal kemunculan seorang tokoh merupakan fase yang menentukan (Lihat: Di Bawah Bayang-Bayang Paradoks Bonjol – Alif.id).

Penulis: Muhamad Radjab
Editor: Udji
Kategori: NonfiksiSejarah
Terbit: 14 Oktober 2019
Harga: Rp 120.000
Tebal: 496 halaman
Ukuran: 140 mm x 210 mm
Sampul: Softcover
ISBN: 9786024812324
ID KPG: 591901694
Bahasa: Indonesia
Usia: 15+
Penerbit: KPG

          Stigma yang muncul hingga saat ini adalah kaum Padri yang selalu diidentikkan dengan Wahabi karena purifikasinya. Memang benar, gerakan Padri sendiri terilhami dengan pulangnya tiga orang, yaitu: Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang yang bertujuan membasmi bid’ah dan mengembalikan Islam kepada yang asli (pure), atau dalam bahasa mereka adalah “kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah”  (hlm. 8). Namun demikian, tidak dapat pula dikatakan gerakan Padri tidak berubah. Harus disadari  bahwa pada akhirnya mereka melebur, antara Islam dan adat Minangkabau tidak lagi dipermasalahkan. Mereka sadar, yang harus dilawan adalah kolonialisme.

          Pada intinya, Kaum Adat dan Padri itu satu bangsa, satu bahasa, satu agama dan satu tanah airnya, begitu kesimpulan Radjab. Hal yang patut disadari bahwa Perang Padri bukanlah untuk visi kekuasaan, melainkan untuk membangun ideologi bersama. Struktur budaya tidak memungkinkan bagi masyarakat Minang untuk mengarah kepada visi kekuasaan. Raja Pagaruyung saja tidak dapat mendamaikan suatu sengketa. Kekuasaan terbagi-bagi sehingga Raja Pagaruyung beserta wakilnya tidak dapat mengendalikan suasana (hlm. 3).

          Demikian, buku ini ‘wajib’ dibaca bagi mereka yang cinta dengan lorong-lorong sejarah Padri dari perspektif pribumi. Tidak mungkin buku ini didiamkan begitu saja, tentu harus terus digalakkan bagi mereka yang cinta Tanah Air ini. Perjuangan kaum Padri dan Adat tetap harus diapresiasi, setidaknya perlawanan mereka terhadap kolonialisme. Adapun warisan mereka kepada kita sebagai bangsa adalah visi ideologisnya, bukan untuk aspek politis.

Dimuat di Harian Tribun Jateng Edisi Minggu, 18 Oktober 2020


Peresensi: In'amul Hasan

Posted in: Ulasan
Be the first person to like this.