siapabilang.com
by on March 10, 2021
11 views

Kenangan masa kecil memberi warna dan cerita. Ingatan perihal permainan, petualangan dan bersuka ria, tanpa harus memikirkan beban dan perkara hidup yang entah akan menimpanya dikemudian hari. Kesenangan dan keceriaan semasa kecil terekam gamblang dalam sketsa kehidupan setiap diri manusia.

          Kenangan tentang memori masa kecil tersaji secara epik nan bijak dalam buku bertajuk Semasa Kecil di Kampung, garapan Muhamad Radjab. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1950. Menarasikan keluguan seorang bocah bernama Muhamad Radjab-dipanggil Rijal-yang kelak menjadi seorang jurnalis dan penerjemah ampuh. Dilahirkan di Sumpur, Padang Panjang, Radjab mengawali perlawanan hidupnya. Bagi sebagian orang, nama Muhamad Radjab kurang mendapat sorotan dan perhatian di dunia jurnalistik (pers) jika disejajarkan dengan Rosihan Anwar (1922), BM Diah (1917) maupun Tirto Adhi Soerjo (1880). Dalam buku ini, Radjab mengajak kita bernostalgia dan menerawang jauh perjalanan semasa kecilnya.

Penulis: Muhamad Radjab
Editor: Udji
Kategori: Nonfiksi, Memoar
Terbit: 25 November 2019
Harga: Rp 80.000
Tebal: 240 halaman
Ukuran: 140 mm x 210 mm
Sampul: Softcover
ISBN: 9786024812942
ID KPG: 591901724
Bahasa: Indonesia
Usia: 15+
Penerbit: KPG

          Pada bab-bab awal, kita didongengkan Radjab perihal keindahan alam tanah Sumatra Barat. Dongengan mendemokan khayalan dan keasrian tanah kelahirannya, seperti lembah yang menghijau dan diantaranya ada dua jajar bukit barisan, yang membujur dari Utara ke Selatan, dan ditengahnya mengalir sungai Batang Sumpur (halaman 2).

          Pendidikan dan Kritisisme. Proses pendidikan Radjab kecil ditempuh di lembaga pendidikan pesantren. Digembleng lewat kultur budaya pendidikan keagamaan yang kental. Masa-masa mondok di pesantren, bagi Radjab membuatnya (sedikit) jemu, bosan dan kehilangan waktu bermain bersama teman-temannya di rumah. Mengaji berjam-jam dengan melahap delapan kitab, setiap malam sampai larut malam dilaluinya selama menempuh pendidikan di pesantren (halaman 98). Buah keterampilan selama mengaji di pesantren, yaitu kekritisannya dalam berargumentasi tentang perkara keislaman.

          Buku ini, tidak hanya menyoal perangai bocah kecil belaka. Di dalamnya tersirat pesan penting perihal tradisi, budaya, sejarah, pendidikan dan agama di tataran Minangkabau masa lampau. Dataran tinggi dan aliran sungai di Minang, menyimpan pelbagai macam peradaban panjang yang kemudian membentuk suatu entitias yang luhur.

          Cerita-cerita kebudayaanpun tak luput dari sorotan Radjab dalam buku ini. pokok kebudayaan Minang ditulis dengan rasa bangga dan kejenakaan. Pembaca patut mengerti manakala Radjab sedikit sinis, terhadap suatu adat yang hanya dipisah oleh bukit tempat tinggalnya itu. Baginya adat ditempat itu dianggap mudzir dan memboroskan uang belaka tanpa faedah yang berarti. Seperti menyalakan mercon semalam suntuk hanya untuk beradu gengsi kekayaan dan keglamoran (halaman 186).

          Pada dasarnya tuturan tokoh kondang semacam Radjab memberi warna dan nuansa nostalgia. Ingatan perihal masa silam, menuliskan latar belakang pendidikan, budaya, adat, dan sejarah. Buku ini pada dasarnya menyuguhkan tentang proses terbentuknya adat-adat Minang yang panjang. Muhamad Radjab, dibesarkan oleh lingkungan yang punya rentetan sejarah panjang pula. Buku ini penting. Ditulis dengan gaya khasnya, yaitu jurnalistik.

Dimuat di Harian Tribun Jateng


Peresensi: Oscar Maulana

Posted in: Ulasan
Be the first person to like this.