siapabilang.com
by on June 8, 2021
7 views

MUNA Masyari, saat ini membawa nuansa yang begitu erat dengan gaya mempertahankan imajinasi lokalitas budaya Madura dalam dunia sastra, fokus menjunjung martabat masyarakat sendiri. Hal ini bisa kita lihat dalam poin yang berada dalam novel ini, salah satunya nilai martabat yang kita tangkap, seperti harta hantaran dalam pernikahan di adat Madura. Kemampuan imajinasi Muna begitu kuat dalam membangun sebuah cerita, sehingga seolah olah pembaca merasa terbawa arus dan ledakan tak terduka dalam ceritanya.

Saya melihat karya Muna sebelumnya, tidak jauh berbeda dengan karya buku sebelumnya dalam membangun atau mempertahankan kajian budaya dalam karya sastra. ‘Damar Kambang’ menunjukkan dalam ritual perkawinan, dalam nilai yang kita ambil dari rituan perkawinan ini tidak terlepas itu mitos atau bukan, akan tetapi masyarakat Madura mempercayainya sebagai suatu ritual ini bahkansudah mendarah daging yang tak bisa dipisahkan dalam masyarakat Madura.

 

Spesifikasi Produk

Penulis: Muna Masyari
Editor: Udji Kayang
Kategori: FiksiNovel
Terbit: 30 Desember 2020
Harga: Rp 75.000
Tebal: 208 halaman
Ukuran: 135 mm x 200 mm
Sampul: Softcover
ISBN: 9786024814564
ID KPG: 592001834
Usia: 17+
Bahasa: Indonesia
Penerbit: KPG

‘Damar Kambang’, mencoba mempromosikan wajah Madura secara detail dalam novel ini. Misal dari sikap terhadap sesama, sikap takzim kepada guru (buppaí-bhabbuí, ghuru rato!), asas kekeluargaan, sampai pada sisi keras sebagaimana pepatah orang Madura yang begitu kental lebbi bagus pote tolang katembang pote mata. Ini menujukkan bahwa pepatah kadang dilakukan secara nyata dengan celurit yang menjadi pegangan jika ada yang menginjak-injak harga dirinya, atau lewat ‘angin kiriman’ seperti melalui perantara dukun untuk membalas dendam orang yang melakukan hal tersebut.

Sebagaimana yang terjadi dalam ‘Damar Kembang’ ini, cercaan dari Marinten dilontarkan pada Cebbing dan ibunya. Cebbing adalah korban dari kegagalan pernikahan disebabkan tidak adanya rumah hantaran. Rumah hantaran bagi sangkar perkawinan bagi perempuan. Simbol kesetiaan, keamanan, batas-batas kebebasan, sekaligus kepemilikan orang tua (hal 110), bahkan orang tua yang menikahkan anak perempuannya tanpa rumah hantaran akan jadi cemohan atau cibiran orang, juga bakal dianggap anaknya dijual dengan harga murah.

Novel ‘Damar Kambang’ memberikan kontribusi besar dalam khazanah sastra Madura. Muna Masyari meramu dengan sangat epik, sehingga pembaca seolah diajak mengenal lebih jauh berbagai tradisi masyarakat Madura. Ini yang membuat karya Muna semakin menggila dalam melokalitas budaya atau ritual dalam karyanya.

Dimuat di Kedaulatan Rakyat edisi Selasa, 30 Maret 2021


Peresensi: Ruhan Wahyudi

Posted in: Ulasan
Be the first person to like this.