siapabilang.com
by on August 16, 2021
22 views

Sejarah diksi terdapat dalam jamu. Pada masa 1930-an orang-orang mengenali minuman untuk waras memiliki sebutan: Tjap Portret Njonja Meneer. Orang membeli jamu dan melihat dibungkus ada gambar perempuan. Sosok itu pembuat atau peramu jamu di Semarang. Konon, pemasangan gambar atau “portret” itu memberi pengaruh besar bagi orang dalam membuktikan khasiat jamu.

        Kita simak keterangan dalam buku Perjalanan Panjang Usaha Nyonya Meneer (2002) susunan Asih Sumardono dan tim: “Tak ada waktu lagi untuk menemui dan mengantarkan jamunya kepada pelanggan. Ada kecenderungan pemesan kurang puas bila jamu diantar oleh orang lain. Seakan khasiatnya berkurang dan hilang kemanjurannya. Dengan berpikir keras, akhirnya muncul ide spektakuler untuk meletakkan potret dirinya pada pembungkus jamunya. Masa itu potret diri merupakan sesuatu yang amat langka. Dia harus membuatnya sebaik mungkin untuk kemasannya. ”Siasat itu melariskan. Untungpun besar. Usaha pembuatan jamu cepat meningkat. Potret turut menjadi “penentu”.

       Dulu penulisannya adalah “portret”, bukan potret. Dipembungkus jamu dan iklan-iklan lawas, publik membaca memang “portret”, meski mengetahui diksi lazim untuk itu digunakan masa sekarang adalah potret. “Njonja” Meneer mungkin menggunakan diksi mengacu dari bahasa Prancis. Pada masa awal Abad XX, sekian bahasa berpengaruh di tanah jajahan. Olivier Johannes Raap menjelaskan: “Kata Indonesia ‘potret’ berasal dari kata Prancis, portrait, yang berdasarkan kata kerja Latin, protrahere, yang berarti ‘memajukan’ atau ‘menampakkan’. Subjek yang dimajukan dan ditampakkan biasanya manusia. ”Kita menduga saja penulisan “portret” dalam bisnis jamu masalalu itu bukan kesalahan. Orang menganggap salah setelah mengetahui ketentuan-ketentuan penerjemahan atau serapan secara resmi.

       Di buku Potret Pendoedoek di Djawa Tempo Doeloe ini Olivier tak mengingat Tjap Portret Njonja Meneer, tapi mengingatkan sejarah potret berpengaruh dalam peradaban di Jawa Abad XX. Potret-potret diajukan dengan keterangan-keterangan menguak sejarah di Jawa dan identitas manusia-manusia pada masa kolonial. “Sebuah potret bukanlah gambaran orang saja,” penjelasan Olivier. Dia memastikan keberlimpahan koleksi kartu pos memuat potret-potret yang memiliki cerita silam. Olivier melihat dengan tafsir-tafsir kesejarahan.


Penulis: Olivier Johannes Raap
Editor: Christina M. Udiani
Penataletak & Perancang Sampul: Pinahayu Parvati
Kategori: NonfiksiSejarah
Terbit: 16 Juni 2021
Harga: Rp 200.000
Tebal: 212 halaman
Ukuran: 190 mm x 240 mm
Sampul: Softcover
ISBN: 9786024814366
ID KPG: 592101894
Usia: 15+
Bahasa: Indonesia
Penerbit: KPG

        Lacakan masalalu memunculkan keterangan: “Sekitar tahun 1900, teknologi fotografi belum secanggih sekarang, kecepatan rana kamera masih sangat rendah. Model foto harus berpose tanpa bergerak kurang lebih 10 detik. Jika orang yang dipotret bergerak sedikit saja, hasil foto akan terlihat buram. ”Masalah fotografer, alat, waktu, dan teknik perlu pembahasan dalam menafsir manusia-manusia dalam potret yang sering diselenggarakan di studio. Potret mengajak orang melihat “tempo doeloe” dengan sekian “tebakan” dan kepastian mengarah kebenaran.

        Kita membuka buku berjudul Potret (2012), masuk dalam “Seri Lawasan” terbitan Kepustakaan Populer Gramedia dan Bentara Budaya. Buku ini memuat kutipan-kutipan penelitian, koleksi kamera, dan beragam potret masalalu. Pada akhir Abad XIX, studio-studio foto diadakan di tanah jajahan. Para pemiliknya orang-orang Eropa, Tionghoa, dan Jepang. Bumi putra telat masuk dalam bisnis studio potret atau fotografi. Masa demi masa, ingatan sejarah fotografi di Indonesia memunculkan empat nama bumi putra: Kassian Chepas, A Mohammad, Sarto, dan Najoan. Informasi itu melengkapi para penikmat koleksi potret dalam buku susunan Olivier. Di sekian potret, Olivier kadang menemukan nama fotografer. Dulu, perkara itu belum lazim. Pengakuan: “Memastikan usia foto dan mengidentifikasi fotografer merupakan tugas yang tidak mudah. Kita harus mendalami materi dan berkutat dengan buku-buku lama dan baru untuk mencari jejak dan data tentang fotografer.”

       Olivier terus berurusan dengan koleksi kartu pos dan potret, diterbitkan menjadi buku-buku mengundang “tempo doeloe”. Seno Gumira Aji darma dalam pengantar untuk buku Olivier berjudul Pekerdja di Djawa Tempo Doeloe (2013) memberi pujian: “Olivier menjelaskan foto-foto itu dengan rinci, bukan sekadar menunjuk namanya sebagai objek, melainkan konteks sosial objek objek tersebut dalam kaitannya satu sama lain, yang membuat foto-foto ini benar-benar hidup kembali. ”Sekian tahun berkutat dengan koleksi potret untuk diberi tafsiran-tafsiran, selalu mengarah ke sejarah. Olivier masih bergairah mengisahkan Jawa (Indonesia), belum kapok dengan pelbagai kesulitan dan kritik.

        Kita mulai menikmati dan memilih sekian potret yang telah ditafsir Olivier dalam Potret Pendoedoek di DjawaTempo Doeloe. Kita melihat potret perempuan memegang gitar. Potret dibuat pada masa 1930-an oleh perusahaan rekaman musik Beka. Potret mengiklankan piringan hitam. Sosok perempuan dipotret itu bernama Moena, biduan keroncong di Malang. Nama fotografer tercantum: Koo Tjhoen Lie. Adegan perempuan bergitar mungkin mengejutkan bagi orang-orang masalalu. Perempuan tak cuma biduan memberi suara merdu. Ia pun bergitar. Penampilan itu telah digamblangkan demi penjualan piringan hitam, tak memastikan Moena bisa memainkan gitar.

       Olivier menafsir potret dua perempuan dalam peristiwa petan. Keberanian mengajukan ke pembaca agar turut memikirkan masalalu dengan hal-hal belum lengkap. Potret diperkirakan dibuat pada 1910. Fotografer diduga adalah Kassian Chepas. Lokasi pemotretan di studio beralamat di Yogyakarta. Olivier masih memerlukan pencarian data dan keterangan. Potret itu dipilih gara-gara khas bagi kaum perempuan di Jawa. Penjelasan: “Orang Jawa menyebut aktivitas mencari kutu ini dengan istilah petan. Terlihat piring kecil untuk menaruh hasil perburuannya: kutu rambut kepala, setelah dimatikan dengan cara digigit.” Di kampung kampung, petan digunakan pula berbagi cerita atau menggerakkan gosip-gosip. Petan memang nostalgia, sebelum digantikan pemberantasan kutu atau tumo menggunakan obat obat mujarab. Pada Abad XXI, petan menjadi peristiwa yang sulit ditemukan, saat orang-orang memiliki beragam kesibukan dan kesadaran baru merawat rambut.

       Kita tentu tak melewatkan potret dua lelaki bersepeda yang dipilih tampil di sampul. Dua pemuda berprofesi sebagai pengirim telegram. Pengiriman menggunakan sepeda onthel. Potret dibuat mungkin pada 1910. Olivier tak memberi keterangan panjang. Kita diminta turut penasaran, berhak pula berimajinasi dua sosok berperan dalam korespondensi awal Abad XX. Mereka bertugas dengan sepeda yang dimengerti memiliki kecepatan. Sekian sebutan pernah terberikan pada masalalu: pit atau kereta angin.

       Di bagian prakata Olivier meminta perhatian pembaca: “Dalam buku Soeka Doeka di DjawaTempo Doeloe, manusia yang dipotret berperan dalam pembahasan kebudayaan, sedangkan dalam buku Potret Pendoedoek di Djawa Tempo Doeloe, kebudayaan dijadikan penambah suasana dalam pemotretan orang.” Pembaca diminta menikmati dua buku sebagai “keutuhan”. Kita membuka Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe (2013), berjarak agak lama dengan buku terbaru. Disitu, kita mengetahui ikhtiar keseriusan Olivier memberi pemaknaan. Pola terus berulang untuk serial buku kartu pos potret. Kita simak: “Agar bisa memberikan narasi yang baik, saya juga melakukan riset yang serius. Saya mencari lokasi foto lama, memeriksa peta lama, dan banyak bertanya. Sumber terpenting adalah buku-buku lama berbahasa Belanda serta keterangan orang-orang generasi tua yang merupakan sumber yang cukup subur.”

       Kita, yang menjadi penikmat buku buku susunan Olivier, tak berkewajiban melelahkan diri membuktikan atau membuat argumentasi atas penafsiran terberikan. Ditatapan mata ratusan potret sering menakjubkan, meski penasaran-penasaran tak semua terjawab. Kita (agak) mengerti “sejarah” terlihat dalam potret-potret dan sekian hal mengitari. Pada masalalu potret potret memang “rekaman” dengan segala penggamblangan dan keraguan. Begitu.

Dimuat di Koran Sindo edisi Sabtu, 14 Agustus 2021


Peresensi: Bandung Mawardi, Penulis buku Silih Berganti (2021) dan Titik Membara (2021)

Posted in: Ulasan
Be the first person to like this.