siapabilang.com
by on September 12, 2022
14 views

      Dan Damai di Bumi! diterjemahkan dari Und fiede Auf Erden! yang pertama kali di terbitkan di Freiburg, Jerman pada 1904. Terdiri dari lima bab sama seperti buku-buku Karl May lainnya—seperti Winnetou I-IV, (1893) dan Im Lande des Mahdi (1896)—buku ini ditulis dengan cara seperti catatan perjalanan yang mengisahkan perjalanan Karl May—tokoh "tokoh aku"—berkunjung ke beberapa negara.

     Sebelum dibukukan, cerita ini buku ini diterbitkan berseri hingga keempat di sebuah majalah di Jerman. Sebagian besar masyarakat Eropa menganggap cerita Karl May sebagai kemenangan Eropa atas bangsa-bangsa lain di dunia. Bangsa Eropa dianggap sebagai pembawa peradaban, sedangkan bangsa-bangsa lain harus di bawah kekuasaan Eropa—terutama agama Kristen. Padahal, ini berlawanan dengan maksud sang penulis. Karena itu, Karl May menambahkan satu bab lagi untuk menegaskan tidak ada bangsa mana pun yang mengungguli bangsa lainnya.

    Ada lima karakter tokoh inti dalam novel ini. Pertama, tentu saja tokoh "aku"—Karl May—seorang yang bijak dan bertindak sebagai penengah dari setiap konflik. Kedua, Sejjid Omar, seorang muslim asal Mesir, berprofesi gembala keledai yang setia dan pintar, terutama dalam hal mempelajari bahasa asing. Ketiga, Waller, misionaris Amerika yang keras kepala menganggap bangsa Asia bodoh dan akan menyebarkan agama Kristen dengan cara apa pun. Ketiga, Fu, penganut Konfusius dan pemimpin kelompok perdamaian bernama "Shen".  Keempat, John Raffley, bangsawan Inggris yang bijaksana. Kelima, Dilke, keponakan Waller yang keras kepala dan licik.

    Karl May yang saat itu sedang berada di Mesir bertemu dengan Sejjid Omar dan Waller. Tujuan mereka sama, yakni menuju Asia Timur. Karl May bersama Sejjid Omar pergi ke Asia Timur karena ingin mengetahui wilayah-wilayah Asia. Sedangkan Waller berambisi "menobatkan" seluruh bangsa Asia yang dianggapnya bodoh, kafir, dan penyembah berhala—terutama bangsa Tiongkok. Waller juga berniat ingin membakar seluruh tempat ibadah di wilayah Asia.

     Keinginan Waller didukung dengan semangat kolonialisme yang berkembangan pesat pada 1900. Bangsa Eropa tak hanya ingin mendapatkan harta dari bangsa Asia, tapi juga ingin menyebarkan agama Kristen—sebagai bentuk kedigdayaan Eropa. Namun, ditengah perjalanan Waller bertemu dengan Fu, yang sangat di luar dugaan Waller. Fu sangat pintar, bahkan dapat menjelaskan persamaan antara ajaran Kristen, konfusius, dan semua agama kepercayaan yang ada di seluruh bumi. Inti kesamaan ajaran tersebut, menurut Fu, "Takutilah Tuhan, sayangi sesama, dan hormati semua orang." (hlm. 29). Waller tak terima, justru ia semakin menggebu untuk meruntuhkan seluruh ajaran Negeri Timur yang kafir.

    Ternyata bukan hanya Waller yang menganggap bahwa bangsa Timur kafir dan bodoh dalam segala hal. Hampir semua bangsa Eropa di novel ini beranggapan demikian. Ini tentu membuat Karl May gusar, kemudian ia menuliskan beberapa sajak, yang menuntun keseluruhan cerita hingga akhir.

"Bawalah warta gembira ke seantero dunia
Tetapi tanpa mengangkat pedang tombak,
Dan jika engkau bertemu rumah-ibadah,
Jadikanlah ia perlambang damai antarumat.
Berilah yang engkau bawa, tetapi bawalah hanya cinta,
Segala lainnya tinggalkan di rumah.
Justru karena ia pernah berkorban nyawa,
Dalam dirimu kini ia hidup selamanya."
(hlm. 116)

 

 

Penulis: Karl May
Penerjemah: Agus Setiadi & Hendarto Setiadi
Editor: Pandu Ganesa & Pax Benedanto
Perancang Sampul: Teguh Tri Erdyan & Deborah Amadis Mawa
Kategori: FiksiNovelSastra, Sastra Dunia
Terbit: Oktober 2002 (Cetakan pertama), Januari 2016 (Cetakan ke-2), 15 Februari 2016 (Cetakan ke-3)
Harga: Rp 120.000
Tebal: 616 Halaman
Ukuran: 140 mm x 210 mm
Sampul: Softcover
ISBN: 9789799109910
ISBN Digital: 9786024249229
ID KPG: 591601103
Usia: 13+
Bahasa: Indonesia
Penerbit: KPG

     Karl May menciptakan alur yang pada dari bab pertama hingga bab kelima. Menariknya, novel ini tidak terlalu menekankan cerita pada aksi fisik, seperti Old Surehand I-II (1894-1895) dan novel lainnya yang dibuat Karl May lebih mengedepankan sisi psikologis tokoh dengan banyak dialog perenungan mengenai toleransi dan kedamaian di bumi.

     Secara tersirat Karl May berhasil membongkar sisi lain kolonialisme, yakni menyebarkan prasangka. Dengan menyebarkan prasangka para penjajah—lebih spesifik pemilik modal dan pemerintahan—dapat dengan mudah mengamankan kepentingannya. Bagi Karl May prasangka merupakan penyakit yang mematikan. Sebab, prasangka dapat menghancurkan persatuan umat manusia. Jika prasangka dapat dimusnahkan, akan tercipta kedamaian di bumi. Itulah yang kemudian membuat ia memberi judul pada buku ini.

   Meskipun nilai-nilai agama yang dimuat dalam Dan Damai di Bumi! lebih banyak mengedepankan nilai-nilai Kristen, seperti agama Karl May, nilai-nilai yang dimunculkan adalah nilai-nilai universal. Karl May menjadikan ceritanya sebagai alat untuk menyebarluaskan nilai-nilai perdamaian, persahabatan, pengampunan, dan toleransi.

    Buku yang ditulis oleh Karl May selama menyusuri Asia Tenggara dan Asia Timur, sejak Maret, 1989 hingga Juli 1900, ini layak dibaca, apalagi "penyakit-penyakit prasangka" masih banyak bercokol pada banyak umat manusia, termasuk di negeri ini.

Dimuat di Koran TEMPO, 9-10 April 2016


Peresensi: Virdika Rizky Utama

Posted in: Ulasan
Be the first person to like this.