siapabilang.com
by on June 25, 2020
7 views

BILA dalam novel perdananya Arundhati Roy menulis dengan alur berkelindan dan memutar, di novel keduanya ini kisah disusun linier. Memotret lanskap yang jauh lebih luas, mencakup urusan lebih banyak orang.

Praktis setelah merilis debut terbaiknya sebagai novelis, The God of Small Things, Arundhati Roy mengambil jeda cukup panjang. Selama reses tersebut Roy memilih fokus pada aktivitas sosial-kemanusiaan dan menulis beberapa judul buku nonfiksi.

Tak bisa disangkal, debut Roy itu pula yang mengantarkannya menjadi salah satu nama yang diperhitungkan dalam sastra dunia. Memenangkan Man Booker Prize tahun 1997, menjadi judul best-seller dunia, dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Dua dekade rehat, 2017 Roy menerbitkan novel keduanya, The Ministry of Utmost Happiness; Kementerian Maha Kebahagiaan. Publik tentu antusias menantikan gebrakan apa yang akan dihadirkan Roy setelah cukup lama rehat. Dan, apakah novel keduanya ini mampu menggetarkan dunia sebagaimana novel pertamanya.

Roy menggunakan dua lema yang berlawanan dalam dua judul novelnya. Bila pada novel pertama Roy menggunakan frasa ’’small things’’, kali ini Roy mempergunakan ’’ministry’’. Kementerian bisa diartikan sebagai istilah kelembagaan yang mencakup urusan banyak orang dan banyak hal, yang pasti lebih besar dari ’’small things’’.

Dalam novel pertama akan diungkap detail-detail kecil Dusun Ayemenem, perkara domestik keluarga, dan cerita terfokus pada dua suadara kembar Estha-Rahel yang karena ulah kecil keduanya muncul guncangan besar di keluarga dan tatanan masyarakat. Urusan kecil yang kemudian merembet pada urusan kasta, ideologi, gender, dan seksualitas.

Sebaliknya, dalam novel keduanya ini, melalui pilihan judul kementerian Roy memotret lanskap yang jauh lebih luas, mencakup urusan lebih banyak orang. Bisa dipastikan Roy kali ini melebarkan kamera pengawasan dalam menulis cerita.

Novel memang berpusat pada sosok Anjum, seorang hijra asal Kashmir. Apa itu hijra? Hijra adalah istilah bahasa India untuk kaum transgender. Meski Anjum bukan sebagaimana transgender pada umumnya.

Ia adalah seorang hermafrodit. Lahir sebagai bayi lelaki bernama Afdal di tengah pasangan Janahara Begum dan Mulaqat Ali yang sudah mengidamkan anak lelaki begitu lama. Bidan menyebut ’’laki-laki’’, namun Janahara Begum tak menemukan onderdil-otong pada Afdal, melainkan onderdil-upik.

Ketidakberesan ini kemudian menekan Afdal untuk terus menyembunyikan dirinya. Hingga kemudian dia bertemu perempuan transgender Bombay Silk dan memantapkan identitasnya, sebagai Anjum.

Keterasingan identitas ini kemudian memaksa Anjum menyingkir. Pertama, dia pindah ke pondokan khusus kaum hijra, Khwabgah. Setelah tak lagi nyaman, Anjum justru pindah ke perkuburan dan menjadi bakal sebuah usaha mengurus jenazah kaum terpinggirkan. Sebuah simbol yang begitu satire dari Roy, bahwa tak masuk kelompok normal maka tempatnya adalah perkuburan, mati.

Kematian identitas Afdal-Anjum dimulai bahkan saat Janahara Begum mengetahui ketidaklaziman fisiknya. Bertahun-tahun dianggap sebagai laki-laki, kemudian identitas semu itu disempurnakan dengan lahirnya Anjum. Menyepi di perkuburan adalah kematian kesekian Anjum.

Dunia normal di luar Anjum adalah dunia biner. Sebagaimana jenis kelamin, tak mengenal kelamin antara. Pun demikian dengan persoalan lain yang dibawa Roy dalam buku ini. Selain perkara identitas dan gender, Roy memaparkan ragam perkara lain. Mulai konflik Islam-Hindu, India-Kashmir, India-Pakistan, hingga beragam peristiwa berdarah yang terjadi di India.

Selain kekuatan isu yang diangkat, Roy dikenal memiliki kekhasan alur dan bahasa indah. Bahasa Roy adalah alur novel itu sendiri. Bahasa Kementerian Maha Kebahagiaan tidak serumit The God of Small Things.

Permainan kedekatan bahasa, permainan sudut pandang, ragam teknik penceritaan mulai dari potongan koran, buku harian, yang membuat penikmat karyanya dapat merasakan jejak Roy.

Dalam novel perdananya, pembaca akan mudah menyerah membaca dengan alur yang mirip rumah siput. Berkelindan dan memutar. Jajaran waktu tidak linier, penceritaan bolak-balik tanpa penanda waktu. Sulit tapi memang demikianlah ciri khas Roy.

Cacahan alur rumit tak ditemukan dalam novel ini. Memiliki bentangan waktu yang cukup panjang, namun kisah disusun linier. Secara struktur Roy membuat kisah dengan banyak tokoh dengan ragam sebutan. (*)

Resensi di Jawa Pos, 30 Juni 2019


Peresensi: Teguh Affandi

Posted in: Ulasan
Be the first person to like this.