siapabilang.com
by on January 4, 2021
459 views

      Entah kalau Anda, tapi saya merasa bahwa sejak Pilpres 2014 ada sesuatu yang berbeda dalam situasi kebangsaan kita. Mungkin itu juga disebabkan berkembangnya teknologi informasi, internet, dan  media sosial. Beberapa tahun belakangan, seolah ada garis imajiner yang memecah masyarakat menjadi dua: pendukung capres A dan pendukung capres B. Situasi berlanjut hingga Pilpres 2019 dan tidak berhenti ketika presiden terpilih sudah ditetapkan dan menjabat. Seolah ada pembagian yang lumayan rapi. Pemilih (mantan) capres A memberi dukungan kepada isu-isu yang ditolak oleh pemilih (mantan) capres B. Demikian pula sebaliknya.

        Saking sengitnya polarisasi itu, muncul satu cara pengambilan kesimpulan yang terbalik: kalau Anda tidak sependapat dengan kelompok A dalam suatu isu, maka Anda pastilah anggota kelompok B. Ini membuat diskusi isu publik menjadi tidak sehat. Mereka yang tidak mendukung kebijakan presiden terpilih kadang dituduh sebagai barisan sakit hati mantan capres saingan. Orang tidak peduli soal kesahihan argumen atau penjelasan yang lebih rasional. Kahneman, ahli psikologi peraih Hadiah Nobel, memang sudah memperingatkan bahwa manusia pada dasarnya bukan makhluk rasional, tapi bila tiap kali orang yang mengkritik langkah penanganan pandemi dicap “kadrun”, harapan akan diskusi kebijakan publik yang sehat tampaknya masih belum akan tercapai dalam waktu dekat.

        Perdebatan yang berkembang di kedua kubu kadang bisa menukik tajam ke ranah SARA dan pembahasan menjadi sangat kental bernuansa moral. Yang menarik, saat mengamati perdebatan mereka (terutama di media sosial) adalah betapa masing-masing pihak merasa telah memberi argumen yang kuat dan tak bisa dibantah. Masing-masing merasa heran dan tak habis pikir bagaimana pihak satunya tidak kunjung menerima kebenaran argumen mereka. Masing-masing pihak menuduh pihak lain “bodoh”, “kurang pikir”, “dungu”. Padahal sebenarnya kondisi di kubu satu atau di kubu lainnya ya tidak jauh beda.

        Situasi ini hampir sama dengan situasi di Amerika Serikat. Ada pembelahan cukup dalam antara mereka yang memilih Partai Demokrat, kerap kali disebut liberal, dan mereka yang berafiliasi dengan Partai Republik yang dianggap sebagai kubu konservatif. Kedua kelompok itu juga kerap berseberangan dalam berbagai isu lain. Misalnya isu aborsi dan peraturan kepemilikan senjata. Kubu Demokrat rata-rata mendukung kebebasan melakukan aborsi (pro-choice) dan pengekangan kebebasan memiliki senjata, sementara kubu Republik sebaliknya: mengekang kebebasan memilih aborsi dan mendukung kebebasan memiliki senjata.

        Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang menyebabkan kita manusia, bukan hanya di Indonesia, begitu mudah terbelah akibat pilihan politik atau agama? Jonathan Haidt, ahli psikologi dari Amerika Serikat, mengulas persoalan itu secara lengkap, padat, dan menarik dalam buku larisnya yang berjudul The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion, terbit pertama tahun 2012. Buku ini telah diterbitkan terjemahan bahasa Indonesianya dengan judul The Righteous Mind: Mengapa Orang-orang Baik Terpecah Karena Politik dan Agama, oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).

 

Sudut Pandang Baru dalam Psikologi Moral

        Kalau melihat sampul buku The Righteous Mind terbitan KPG, Anda mungkin bertanya-tanya, apa hubungannya gajah di situ dengan moral? Sampul ini sebenarnya hendak menyimbolkan apa yang berkali-kali diulangi Haidt sepanjang buku: bahwa intuisi moral adalah gajah, sementara nalar strategis adalah pengendara yang sebenarnya melayani kebutuhan sang gajah tetapi kerap dikira sebagai tuan yang mengendalikan gajah.

     Dua tahun sebelum versi Bahasa Indonesia buku ini terbit, saya membacanya untuk keperluan penyusunan tesis magister psikologi. Sudah lama saya tertarik mempelajari soal moral, lebih tepatnya mempelajari aspek-aspek psikologis yang menyebabkan orang merasa secara moral punya hak untuk menghakimi, mempersekusi, dan kadang bahkan merenggut nyawa orang lain.

       Untuk proposal tesis, mahasiswa di kampus saya minimal harus mengulas dua puluh artikel jurnal terbaru (terbit dalam kurun sepuluh tahun terakhir) yang terkait tema bahasan riset. Di situlah saya menjumpai nama Haidt. Bukan sekali dua kali. Karena artikel jurnal pasti menyebut dan mengutip berbagai temuan yang melandasi topiknya, nama Haidt berulang kali muncul di berbagai artikel riset tentang moral yang saya baca. Dia seterkenal itu. Coba saja Anda ketikkan nama Haidt di Google Scholar, akan Anda jumpai ribuan hasil. Artikel-artikel Haidt, apalagi artikel perintisnya, “The Emotional Dog and Its Rational Tail di Psychological Review (2001), dikutip ribuan artikel akademis lain.

        Meski di Amerika Serikat buku ini laris, meski di Google Scholar nama Jonathan Haidt kerap muncul, dunia akademis di Indonesia tampaknya belum terkena paparan trennya. Pandangan yang dibawa Haidt memang terbilang baru. Belum banyak (bahkan waktu saya masih jadi mahasiswa, belum ada) dosen di universitas saya, universitas negeri yang cukup ternama, menyebut nama Haidt dalam kuliah. Entah karena dunia akademis di negeri ini kurang update atau karena memang tak banyak akademisi psikologi yang menaruh perhatian pada bidang psikologi moral. Kasusnya berbeda dengan Lawrence Kohlberg, salah satu tokoh besar bidang psikologi moral. Mereka yang mengambil mata kuliah dasar psikologi yang membahas moral pasti pernah mendengar nama Kohlberg.

        Selama berpuluh tahun, pandangan arus utama di bidang psikologi moral didominasi pandangan Kohlberg: bahwa manusia pada dasarnya rasional, sehingga penilaian moralnya juga kurang lebih rasional. Dalam bukunya, Haidt membahas pandangan Kohlberg di awal. Selebihnya, hingga akhir buku, Haidt berusaha memaparkan argumen dan bukti bahwa pandangan Kohlberg ternyata tidak tepat, tidak sesuai dengan fitrah manusia sebagaimana ditemukan dalam riset psikologi kognitif dan neurosains. Bila riset Kahneman yang mengantarkannya meraih Nobel Ekonomi secara umum membuktikan bahwa pada dasarnya manusia memang bukan makhluk rasional, Haidt melakukan hal serupa di bidang moral.

 

Perspektif Baru dalam Psikologi Moral

        Teori moral baru yang diajukan oleh Jonathan Haidt dan kawan-kawan, yakni Moral Foundations Theory (MFT), memberikan kerangka untuk memahami fenomena keterbelahan politik seperti yang disebut di awal tulisan ini. MFT sendiri berangkat dari bukti-bukti yang semakin kuat dari berbagai riset bahwa penilaian moral cenderung terjadi secara otomatis. Landasan penilaian moral adalah intuisi, bukan pikiran rasional. Saya kutipkan pandangan Haidt soal definisi intuisi moral dari salah satu artikel jurnal:

kemunculan tiba-tiba dalam kesadaran, atau di ujung kesadaran, suatu perasaan evaluatif (suka–tidak suka, baik–buruk) mengenai karakter atau tindakan seseorang, tanpa adanya kesadaran menempuh langkah-langkah mencari, menimbang bukti-bukti, atau menarik kesimpulan (Haidt & Bjorklund, dalam Graham, Haidt, Koleva, dkk. 2012)

        Dengan kata lain, evaluasi moral menurut pandangan ini lebih mirip dengan penilaian estetis ketimbang penalaran berbasis prinsip. Kalaupun ada proses penalaran dalam moral, maka itu lebih dipicu oleh tuntutan sosial untuk menjelaskan, mempertahankan, dan menjustifikasi reaksi moral intuitif kepada orang lain. Penalaran moral dilakukan lebih karena alasan strategis sosial ketimbang untuk menemukan kebenaran sejati. Terdengar familier kan? Anda tinggal membuka laman sosial media pendukung salah satu (mantan) capres dan mengamati “diskusi” yang berkembang di sana. Argumentasi yang muncul bukanlah didasari penalaran dengan tujuan mencari kebenaran, melainkan penalaran yang mencoba mempertahankan dan mencari pembenaran bagi pandangan diri/kubu sendiri dan mematahkan argumen kubu lawan. Tak heran sesat pikir logika bertebaran dalam argumentasi semacam itu.

        Namun lantas bagaimana orang masuk ke kubu yang berbeda? Apa yang membuat sebagian orang menjadi “cebong” dan sebagian lain menjadi “kampret”? Menurut Haidt, itu karena tiap orang punya fondasi moral yang berbeda. Fondasi moral itu adalah intuisi (awalnya disebut sebagai emosi/sentimen, tapi kemudian direvisi supaya nuansa kognitifnya lebih terasa). Intuisi ini beragam. Setidaknya ada 6 fondasi yang berbeda: harm (bahaya), justice (keadilan/ketidakcurangan), sanctity (kesucian), loyalty (kesetiaan), dan liberty (kebebasan). Tiap orang memiliki kombinasi intuisi yang berbeda. Ada yang intuisinya lebih cocok dengan kubu A, ada yang lebih cocok dengan kubu B. Penelitian yang menggunakan paradigma MFT menemukan bahwa jenis fondasi moral yang dimiliki individu dapat memprediksi pilihan presidennya, juga memprediksi sikap terhadap berbagai isu kontroversial seperti aborsi bahkan lebih akurat ketimbang usia, gender, ideologi, dan minat politik.  

        Riset menunjukkan bahwa pemilih Partai Demokrat di AS (umumnya kelompok sering disebut liberal di AS atau progresif di Eropa) menggunakan lebih sedikit fondasi. Cuma dua, malah: harm dan justice. Sementara kaum konservatif (pemilih Partai Republik di AS) menggunakan semua fondasi. Sebagian besar orang di dunia ini juga lebih mirip kaum konservatif dalam hal menggunakan landasan moral yang lebih banyak.

        Mereka yang cenderung punya lebih sedikit landasan moral ini disebut dalam buku Haidt sebagai WEIRD (secara harfiah “aneh”, karena menurut Haidt orang-orang ini memang aneh, segelintir minoritas yang menyimpang dari umumnya manusia). Tapi WEIRD sebenarnya singkatan dari mereka yang berasal dari negara-negara barat (Western), terdidik (Educated), Industrial, kaya (Rich), dan demokratis (Democratic). Fondasi moral orang WEIRD hanya dua: harm dan justice. Selama berpuluh tahun, riset psikologi moral hanya dilakukan dengan sampel terbatas orang-orang “aneh” ini. Itu sebabnya mazhab moralitas Kohlberg hanya berlandaskan kemampuan menalar berdasar fondasi harmre dan justice. Begitu pula berbagai mazhab etika Barat.

        Haidt mendasarkan segala argumennya mengenai asal-usul berbagai intuisi/landasan moral itu kepada teori evolusi. Evolusi kelompok, khususnya. Intinya, fitrah manusia adalah berkelompok. Haidt bilang manusia itu 90 persen simpanse dan 10 persen lebah. Moralitas adalah sejenis anugerah alam, adaptasi evolusioner yang memastikan kita bisa bekerja sama dengan manusia lain. Moralitas mengikat kita ke dalam kelompok-kelompok yang dapat bekerja sama secara efektif. Dengan kesamaan nilai moral, kita lebih mudah saling bantu, lebih mudah mengidentifikasi siapa yang bisa kita percaya, dan dengan demikian lebih layak untuk menerima perbuatan baik kita. Moralitas secara evolusioner telah membantu kita mengatasi masalah “penumpang gelap”, mereka yang suka mereguk buah manis kerja sama tetapi menolak ikut menyumbang kerja atau pengorbanan. Dalam perkembangannya, kelompok tersebut bisa berwujud kelompok agama atau kelompok politik.

        Lantas bagaimana? Apa iya kita cuma harus menerima bahwa kita berbeda, terus sudah? Haidt sebenarnya cuma mengatakan bahwa tidak mungkin mengubah kubu, bahkan mengubah pandangan seseorang (apalagi pandangan moral), hanya dengan argumentasi logis atau data. Kita harus menyentuh intuisi yang lain, kita harus berupaya menggerakkan sang gajah.

        Lebih sulit? Iya... juga butuh waktu yang lebih lama. Namun kemungkinan berhasilnya juga lebih besar. Untuk itu satu hal penting dibutuhkan: empati. Kita perlu selalu mencoba mencari dan menemukan persamaan ketimbang menonjolkan perbedaan.

        Naluri berkelompok mungkin tak bisa kita hindari atau kita padamkan sama sekali, tapi kita bisa menggunakannya utnuk memotivasi diri memperluas batas kelompok, memperbesar cakupan kelompok. Maksudnya begini. Mungkin awalnya kita memang secara alami hanya peduli kepada kerabat terdekat saja. Namun kita kemudian toh juga bisa peduli kepada kelompok yang lebih besar. Kelompok rekan sekampung misalnya, atau kelompok etnis, atau kelompok agama, atau kelompok pehobi yang sama. Nah, idealnya kita tidak berhenti di situ. Idealnya kita terus meluaskan empati pada kelompok yang semakin besar, yang mencakup semakin beragam anggota. Seperti kelompok kebangsaan, lalu kelompok kemanusiaan. Mengapa? Karena masalah-masalah kita sebenarnya semakin memerlukan kerjasama lintas kelompok yang makin besar. Misalnya masalah lingkungan hidup, perdamaian dunia, dan juga wabah penyakit.

        Memperluas lingkar kekelompokan tentu saja tidak mudah, tetapi bukan tidak mungkin. Saya berusaha optimistis.

 

Penulis: Rika Iffati Farihah, Lulusan Magister Sains Psikologi UGM
Ilustrasi: Pinahayu Parvati/Dok. KPG


Artikel ini juga dimuat di Kompas.com, Jumat, 8 Januari 2021. 

Posted in: Ulasan
Be the first person to like this.